August 29, 2007...9:36 am

Masalah Pendidikan Di Indonesia

Jump to Comments


Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikandi Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar.

Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globslisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan Negara lain.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan Negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karana itu, kiata seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di Negara-negara lain.

Setelah kita amati, Nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.

Ada banyak penyabab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.

2.1 EFEKTIFITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.

Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.

Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanak pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dinaggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunya kelebihan di bidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.

Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan di bidang sosial dan dipaksa mangikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.

2.2 EFISIENSI PENGAJARAN DI INDONESIA

Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaiman dapat meraih stendar hasil yang telah disepakati.

Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.

Jika kita berbiara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.

Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kami lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan Negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, Karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.

Selain itu, masalah lain efisienfi pengajarn yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih.

Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.

Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.

2.3 STANDARDISASI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.

Dunia pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.

Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP)

Tinjauan terhadap sandardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.

Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.

Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.

Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.

13 Comments

  • Bangsa besar hanya bisa dibangun oleh masyarakat yang bermental besar.
    Mental besar itu dibangun dari pendidikan.
    “Pendidikan harus egaliter, memberikan kedalaman berpikir dan terjangkau oleh sebagian besar orang. Pendidikan juga harus memerhatikan lokalitas setiap daerah sebab yang akan menang dalam persaingan di masa depan adlah merka yang dapat mengawinkan potensi lokal dengan nilai universal” (kompas)

  • Erna Budhiarti Nababan
    November 23, 2007 at 11:30 am

    Saya juga sangat prihatin dengan keadaan pendidikan di Indonesia. Saya pikir perlu dipikirkan dengan segera bagaimana caranya mengatasi kekurangan system pendidikan kita. Mungkin kita bisa mulai dari scope yang kecil. Atau buat 1 pilot project yang betul2 netral dari mulai management sampai operasionalnya. Saya dan banyak kawan lain juga bersedia membantu,hanya masalahnya, selama ini kami tidak tahu bagaimana mengakomodasikannya. Pernah mencoba menghubungi badan resmi seperti SEAMEO (org pendidikan vocational Asia Tenggara), tetapi nampaknya harus melalui jalur organisasi. Kalau sudah menyangkut urusan birokrasi biasanya urusannya malah jadi tambah runyam dan akhirnya terbengkalai. Mungkin Bapak ada saran?. Terima Kasih

  • Titik pangkal persoalan yang terutama mengapa mutu pendidikan rendah, tidak lain adalah karena kesejahteraan guru itu masih jauh kurang, sehingga guru tersebut tidak dapat mengembangkan ilmunya, karena setiap kita mau mengembangkan ilmu, minimal kita harus keluar biaya, atau setiap kita mau mengajar sedikit banyaknya kita harus membaca, kapan kita mau belajar, sementara kita harus keluar mengobjek setelah pulang mengajar, jadi tidak usah repot-repot mari seluruh guru mengadakan demontrasi agar, dana yang 20% dari anggaran Negara dapat direalisasikan, kenapa harus takut

  • saya pikir, kita juga tidak bisa menyimpulkan bahwa kesejahteraan guru yang kurang menjadi penyebab utama mutu pendidikan indonesia yang rendah. Terlalu cepat kita menyimpulkan pangkal persoalaanya. Dana kesejahteraan guru yang sedikit juga disebabkan banyaknya guru. Guru seharusnya diseleksi dengan ketat juga.

    Banyak alokasi pendidikan kita yang timpang. Indonesia tidak kekurangan guru, jika dilihat jumlah guru yang tersedia. Namun, berapa banyak guru yang tersedia sesuai keahliannya? Berapa banyak guru yang mau ditugaskan ke dareh yang sulit dijangkau? iulah yang menyebabkan kita kekurangan guru dan menambah jumlah guru.

    Anyway……
    Ketika saya mensurvey ke daerah-daerah tertentu, guru-guru SD di sana
    (SD setempat gratis) meminta uang untuk les tambahan, dan itu diwajibkan. Mereka juga mewajinkan muridnya membeli peralatan sekolah kepada mereka dengan harga yang jauh lebih tinggi.

  • Saya hanyalah seorang siswa SMA yang kebetulan sedang mengikuti lomba bertemakan pendidikan.
    Masalah pendidikan di Indonesia ini terlalu kompleks karena Indonesia sendiri negara yang luas dengan ketimpangan sosial yang tinggi.
    Mengutip perkataan Bapak Arif Rachman bahwa Indonesia tidak dapat disejajarkan mutu pendidikannya dengan negara lain, bukan karena negara kita mutunya rendah, tetapi dikarenakan tidak ada negara yang secara geografis seperti Indonesia.
    Negara kepulauan yang luas dan berpenduduk banyak.
    Perlu waktu yang lama untuk melakukan perubahan. Dengan langkah yang pasti saya yakin, kita dapat mengubah pendidikan di sini menuju lebih baik bila kita mau.

    Oh ya, mohon ijinnya untuk bahan lomba yang sudah berlanjut ke tingkat nasional.
    >terimakasih :)

  • [...] Hello world! Masalah Pendidikan Di Indonesia Jump to Comments [...]

  • Memang, saya sangat prihatin dengan kualitas pendidikan di Indonesia, apalagi kebanyakan mahasiswa sendiri saya lihat saya pesimis dalam menghadapi tantangan hidup, baik itu dikancah perjuangan, memikirkan nasib bangsa pun tidak. Mahasiswa cendrung dipengaruhi oleh gaya hidup hedonis, dan tidak menyukai tantangan.

  • Saya sebagai mahasiswa sangat kecewa dengan pergantian kurikulum hampir setiap tahun, menurut hemat saya kalau satu kurikulum saja dipakai tanpa gonta ganti mungkin hasilnya akan efektif apalagi para guru tidak semua memahami teamwork, tidak semua calon guru yang paham ilmu pendidikan dan psikologi siswa dilapangan.

  • Sorry sebelumnya, saya pelajar SMA yang belum mengenal dunia luar. Tapi saya numpang berbicara di tingkat internasional.

    Memang dirasakan sekali bahwa kemerosotannya pendidikan di Indo. Apabila kita mencoba mengemas pendidikan di Indo saya rasa tak kan ada habisnya karena pendidikannya terlalu berantakan.
    Dan aneh nya terjadi pergantian kurikulum setiap kalinya. Itu yang membuat cost tuk guru dan perubahan buku yang memyebabkan sekolah makin mahal.
    Dan saya rasa juga nasionalisme di Indo harus di tingkatkan karena apabila kita melihat baru-baru ini ada siswa Indo yang berhasil mendapatkan medali emas dari pertandingan fisika, lalu di manakah siswa itu sekarang? Apa dia telah lari dari Indo menuju negara luar yang menyediakan beasiswa dan mempersiapkan masa depannya yang matang?
    Kalu itu benar, berarti Indo telah kehilangan salah satu penerus gemilang bukan?
    Itu dia yang menyebabkan Indo makin terpuruk.
    Saya sangat setuju yang dikatakan Saudara Rdwan.
    (Kompas) the best…

  • @ Aldo :
    Sebagian dari teman2 kita itu ada di ITB kok..
    Mungkin kita juga harus membantu pemerintah.. Coba kita kampanyekan teman2 kita yang SMA, SMP dan SD untuk meminjam buku dari seniornya, beritahukan juga kepada ibu2 mereka (kampanyekan juga untuk jangan jaga gengsi ketika anaknya minjem buku dari senornya, anggap saja menjaga kelestarian hutan).. Datang ke sekolah dan mulai kampanyekan untuk tidak membuang2 kertas dengan membeli buku (Angkat isu global warming dengan tidak sering membeli buku).. Siapkan advokasi jika ada guru yg bandel dengan bekerjasama dengan OSIS..

    Lets do the best for our country!!!

  • Kemerosotan pendidikan di Indonesia sudah pada tingkat yang mengkwatirkan. Kita semua menyaksikan kapal besar yang sedang kita kita tumpangi, secara perlahan namun pasti, sedang dalam proses tenggelam tanpa ada yang secara tegas dan cerdas mampu mencari solusi dan berbuat untuk mencegahnya.

    Ada banyak asumsi mengenai penyebab kemerosotan mutu pendidikan kita. Ada 10001 penyebab dan alasan! Salah satu adalah karna terlalu banyak orang pintar namun tak satupun dari mereka ingin bekerja ! Ya, bangsa kita adalah manusia yang senang berwacana namun tak suka berbuat nyata. Mentalitas!

    Apa akibatnya bila orang-orang yang berpendidikan sangat tinggi namun tidak mampu berkreasi tadi menjabat dalam struktur birokrasi? Tentulah ia akan salah urus! Coba telusuri latar belakang pendidikan bapak-bapak dan ibu-ibu yang memegang posisi kunci di DEPDIKNAS ! Kurang apa? Becuskah kerja mereka? Jawab sendiri!! Kog bisa?

    Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo hanya duduk di belakang meja menerima laporan yang “asal bapak senang”, lalu jabatan dan pendidikan (yang umumnya mereka dapatkan secara gratisan lewat beasiswa) dipakai untuk “ngojek” lagi demi memperkaya diri?

    Agar disebut bekerja mereka seenaknya mengeluarkan peraturan dan kebijakan (dan pelaku pendidikan tidak berdaya mengahadapi aturan negara yang keliru dan tak berlogika!) Masyarkatpun kena getahnya!
    Contohnya? ya Ujian Nasional, Akreditasi, Rayonisasi, pembentukan BHP, PT BHMN, dll.

    Apabila kita masih sibuk dengan hal-hal tetek bengek dan prosedural saja, kapan kita sempat membicarakan esensi dari pendidikan itu sendiri?

    Mari kita merenungkan pertanyaan2 yang sangat sederhana ini: “Apakah pendidikan itu penting? Mengapa pendidikan itu penting? Kalo penting lantas apa yang harus kita lakukan?

  • Selamat pagi semuanya……semoga semuanya sehat selalu. Hmmmmm…senang membaca kupasan pendidikannya.
    Menurut saya…..bagi kita yang sudah menyadari bagaimana dunia pendidikan Indonesia kita, kita tidak perlu saling mencari kesalahan lagi, sebab kita sadar betul di sana-sini banyak yang tambal sulam,kadang kita bisa terjebak dan malah jadi frustasi…nah…mari kita mulai berbuat yang terbaik untuk pendidikan kita, jangan menuntut orang lain berbuat baik, tetapi mari kita mulai dari diri kita sendiri. Persembahkan segala sesuatunya dari hal-hal kecil tetapi berkualitas, yakin generasi bangsa ini juga akan melanjutkannya untuk ke depan dan masa depan Indonesia kita ini.
    Sebagai contoh apa yang sudah dilakukan oleh Bunda Theresia di India terhadap penduduk India, sekarang karyanya tersebut dilanjutkan oleh generasi berikutnya bukan…….
    Oke….idealis kita tidak perlu harus diperhatikan atau dihargai oleh apratur negara, tetapi kita berbuat demikian sebagai panggilan moral dalam diri ini untuk kejayaan generasi Bangsa Indonesia kita. Terima kasih….

  • pertanyaan saya sebenarnya adalah apa yang bisa kita lakukan dalam dunia nyata untuk memperbaiki wajah buram pendidikan kita. bukan lagi dalam tataran wacana?

Leave a Reply