Nusantara (Oleh Kemal Taruc)

Di Nusantara ini pernah ada
Sriwijaya,
konon kerajaan besar, yang tinggal namanya
bahkan bekas reruntuhan kotanya pun kita tak tahu dimana.
Tetapi, bekas gudang barang perdagangannya kini masih ada dan berjaya

dengan nama Singapura.
Pernah juga ada
Majapahit,
yang konon sumpah mahapatihnya, Palapa, pernah kita pakai sebagai simbol kesatuan
nusantara, satelit canggih yang kini menjadi barang dagangan dunia,
namun bekas bandarnya
entah dimana sekarang.
Konon masih banyak lagi, kejayaan lama, Inderapura, Sulu, dan lainnya
budaya besar nenek moyang kita, tapi setelah beberapa abad
tinggal namanya
dan sekedar tapak petilasannya.

Mereka telah punah, sirna, tinggal cerita saja.
Beruntunglah masih ada anak cucunya, yaitu kita di sini, sekarang, yang hidup dalam dunia
kita sendiri, bernama Indonesia yang berumur hampir duapertiga abad
tak ada hubungannya lagi dengan besarnya nama Sriwijaya – (oh, ya, maaf, masih ada
hubungan, dengan Singapura kita menjadi pemasok pelabuhannya dengan hasil alam
Nusantara, dan tempat parkir pencucian uang hasil korupsi) atau Majapahit atau Sulu atau
Inderapura.

Apakah cerita ini akan berulang?

Seratus, dua ratus tahun lagi, akan ada anak-anak muda di Nusantara ini berkumpul dan
membicarakan, seperti kita sekarang ini,
bahwa konon pernah ada sebuat Negara maritim besar, dulunya bernama Indonesia
yang beberapa petilasan kotanya, tenggelamnya desa-desanya, atau rerentuhan pelabuhannya
mungkin masih tertinggal,
dan menjadi tempat kunjungan wisata lokal,
anak muda pacaran
dan orang tua pergi memancing

Seratus, dua dan tiga ratus tahun lagi, ada anak-anak muda di Nusantara,
membahas Negara Kertagama yang entah dimana,
juga ramai membicarakan Pancasila dan Undang-Undang Dasarnya dengan panjang-lebar
mengulas filsafatnya dan semua sejarahnya,
dengan keheranan, kenapa gagasan besar itu menjadi sebuah keterpurukan sejarah?
Lalu mereka berdebat, berspekulasi, berteori, dan mungkin menyusun disertasi antropologi
atau arkeologi, mencoba menjelaskan apa itu Indonesia, apa kehebatannya, apa
kemunafikkannya, apa kebodohannya, apa yang dilakukan para warga negara terhadapnya,
dan apa perannya pada kepunahannya . . .

Apakah cerita ini akan terjadi?

Entahlah . .
Aku di sini bukan mau berspekulasi,
hanya terkadang berfikir, melamun, melenguh seperti sapi tua, menghela nafas,
dan berandai-andai, yang tak ada ujung pangkalnya . . .
Tetapi hari ini, di sini kita berkumpul,
saat ini,
untuk impian dan fikiran yang berbeda.
Bukan melenguh, bukan mengeluh
bukan menghela nafas, bukan mengurut dada.
Kita di sini, berkumpul,
hendak memberikan kesaksian, untuk menghentakkan kaki, melantangkan suara,
meneriakkan kehendak,
dan mengukirkan coretan sejarah pada kanvas masa depan yang masih putih kosong.

Saudaraku,
Aku serukan panggilan, seperti adzan, yang berulang di pagi, siang, sore, petang dan malam,
panggilan untuk bangun, seruan untuk bangkit, hentakan untuk menggeliatkan badan,
menarik langkah, menapakkan kaki, dan memulai perjalanan hari ini dan esok.

Bangunlah Saudaraku, dari nyaman lelapmu,
matahari semakin tinggi, membakar, dalam teriknya yang tak lagi tertahankan oleh lapisan
ozon,
menyengat dan menghisap sumsummu,
bahkan, yang kemarin tak pernah terpikirkan,
drakula-pun terbang di siang hari, sekarang ini, menunggumu,
menancapkan taringnya di ubun-ubunmu
menyebarkan kanker kulit dan mengkeroposkan tulang-tulangmu,
menghisap kering hawa masa depan
yang tak akan tersisa bahkan tak lagi cukup untuk hirup nafasmu.

Bangunlah Saudaraku,
bencana ini bukan fatamorgana dan bukan sekedar mimpi buruk dalam nyaman lelapmu,
Bumimu ini sudah lelah, semakin merekah, menelanmu,
menyemburkan bubur panasnya, melalap melebur-lumatkan mereka yang terlalu lama diam
dalam sembunyinya,
yang tak perduli ketika si buruh dicabik-cabik, diperkosa, diseret, dilindas dan dibuang ke
selokan,
maka prahara datang dan menelanmu, melindasmu, menguburmu hidup-hidup,
sementara kita seperti si dungu terheran-heran kenapa itu bisa terjadi,

Saudaraku, bangunlah,
tak ada pilihan lagi

kalau tidak maka kita harus membayarnya,  dengan darah bayi-bayi kita, anak kita, cucu kita, cicit-cucut kita, Bangunlah,
karena teman tidurmu, sementara engkau terlelap,
telah menjual bumi ini kepada Banaspati global pemakan segala,
dan yang akan memakan lagi, mengeruk lagi, menguras lagi, dan menghabisi,
hingga semua tinggal cerita lama
seperti lamunanku tadi.
Buka matamu Saudaraku,
Lihatlah,
lautmu menjadi tawar tak lagi bergaram, ikanmu mengendap busuk tak lagi berenang, padimu
meranggas kering tinggal alang-alang, belukarmu menjadi umpan api, hutanmu terbakar habis,
minyakmu kering sudah, tinggal lumpur airnya, gas alammu menguap sirna, ternakmu penuh
kurap tak lagi berbulu dan berdaging, unggas-unggasmu menjadi pembunuh dan penyebar
penyakit tak berkesudahan, anak-anakmu makan permen narkoba, mandi di comberan, minum
air berlumpur oli, bayimu lahir membawa HIV dan AIDS, otaknya bernanah, badannya
berlumur darah, dan anak-anak kita gelak-tawanya adalah seringai kematian dalam dan orgi
kekerasan dan kanibalisme.

Di sini lah,
Di kenyataan inilah,
Kita sekarang berdiri.

Haruskah?

Saudaraku,
Di kota ini, di jalan di depan ini, ketika kakiku melepaskan penat kereta malam dan menaiki
kretek berdetak menuju Badaksinga, aku menghirup lembabnya namun terasa hangat memberi
semangat,
Di kota ini aku pernah meletakkan mimpi dan membentangkannya di kabut paginya
Di kota ini darah mudaku pernah terdidih, meluapkan segenap hasrat
ingin memberi, membentuk masa depan, menyisakan senyum dan harapan
menggugat tirani, menyuarakan pekik, membentangkan poster dan spanduk,
membacakan puisi, menggelar panggung, menyanyikan sindiran, menggelar barisan . . .
hingga waktuku tiba,
ketika turun gunung, keluar dari pelukan aman alma mater,
memasuki kehidupan dan, dengan kenaifan percaya diri,
menembus keterluntaan perjalanan kehidupan bangsa ini.

Saudaraku, di sini kita kembali, berkumpul menyatukan sukma, roh kemanusiaan kita,
di kota ini, di sini kita kembali, berkumpul, menyatukan cipta rasa dan karsa
kita nyanyikan “halo halo Bandung” bukan hanya sebagai “kota kenang-kenangan”,
tetapi dengan segenap hati kita gemuruhkan
sebagai “kota gugatan” harapan masa depan generasi mendatang.
. . . . . . . . . . . . [aum suara hati] . . . . . . .
Kupanggil sukmaku, kuminta reinkarnasi dari kehidupannya tigapuluh tahun yang lalu,

Panggillah sukmamu, Saudaraku, panggilah ia, dari kejayaannya limapuluh tahun yang lalu, Panggillah hatimu, Saudaraku, datangkan ia kembali dari kesuciannya duapuluh tahun yang
lalu,
Panggillah gemuruh hatimu, Saudaraku, hadirkan ia dengan segenap hasrat berjuangnya
sepuluh tahun yang lalu dalam nama “reformasi” yang telah luluh cair menyertai hilangnya
kabut pagi dan lembab malamnya kota ini . . .
Kita di sini berkumpul untuk menyatukan semangat semesta — seratus, limapuluh, tigapuluh,
duapuluh, sepuluh, dan bahkan lima atau setahun yang silam – yang pernah tertumpah di
kampus-kampus, jalan-jalan, taman-taman, gedung-gedung di kota ini,
kita satukan dalam sejarah yang kita ukirkan bersama di tempat ini,
dan kita leburkan dalam satu semangat dan cita-cita bangsa Indonesia untuk berdiri kembali di
abad 21, dan semakin tegak di abad 22, dan berjaya dia abad 23, 24, 25, 30, 50 dan
seterusnya . . . . hingga kiamat tiba !!

Kita canangkan I n d o n e s i a yang kita cita-citakan,
Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
tercermin dari wajah anak balita kita, yang lahir dari ibu yang sehat, dengan gizi penuh, dan
lengking tangisnya menyuarakan sukacitanya terlahir di bumi Nusantara ini.

Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
terpancar dari rona anak-anak SD kita, berjalan tegap, menyanyi dalam gelak, lari menyerbu
masuk ke kelas melepas kerinduan bertemu dengan guru-gurunya yang mereka cintai sebagai
ayah-bunda kedua mereka, bertepuk tangan, berebut acung tangan, berbinar mata mereka
menjawab setiap pertanyaan, mengernyit dahi mereka berfikir-kritis akan kehidupan yang
sedang mereka awali.

Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
tersirat dari sinar wajah para guru, yang tegak, bangga dan haru akan profesinya, sebagai
pandu generasi bangsa, yang hidup tenang dalam kesederhanaan, hidup cerdas dalam
kecukupan tanpa rasa kuatir, yang anak-anak kandung mereka juga bermain bersama dengan
anak-anak muridnya di tempat yang sama, di sekolah yang layak, di halaman yang hijau, di
kehangatan desa dan kotanya, di amannya lingkungan yang terbebas dari hiruk-pikuk
kekerasan dan narkoba.

Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
tarcermin dari sigap dan senyum para pamong-prajanya, para penjaga kedamaian dan
penegak-hukumnya, para pemimpin-pemimpinnya lingkungannya, yang ramah, lembut dan
rendah hati akan profesinya sebagai pelayan pembawa amanat rakyat, yang hidup tenang
dalam kesederhanaan, hidup cerdas dalam kecukupan tanpa kuatir hari esok, yang merasa
malu dan berdosa untuk makan barang dan fasilitas yang bukan haknya, dan merasa bahagia

melayani dan memberi kepada saudara mereka yang lebih miskin dan menderita.
Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
terbangun dari kekayaan alam anugerah Tuhannya, dari kecerdasannya mengelola, mengolah,
dan memanfaatkan lautnya, pulau-pulaunya, pantai-pantainya, sungai-sungai dan danaudanaunya,
gunung-gunung dan lembahnya, hutan-hutan kebun-kebun sawah-sawah, dan
ladang-ladangnya, gas alam, air terjun, logam mineral dan batuan-batuannya, sinar matahari,
hujan, kelembaban dan embun-embun di belukar, jamur-jamur, virus bakteri-bakteri dan
cacing tanah, dan sejuta keaneka-ragaman hayati di darat, di danau, di pantai, di laut, dan di
kedalaman samudera – yang semua terbagai adil menjadi berkah-manfaat buat mereka yang
hidup di tengah ekosistemnya.

Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
dimana berwira-usaha adalah upaya kegotong-royongan Usaha Bersama, dalam senyum dan
bahagia rasa berbagi dan berlomba dalam kebajikan, si Wira memimpin usaha dan si Karya
menjalankannya, ringan sama dijinjing berat sama dipikul, resiko sama dihadapi dan
keuntungan sama dinikmati, seraya memelihara sumber alam, saling menjaga saling memberi
dan berbagi menjaga si-kecil si-papa si-lemah dan si-malang yang terberdayakan, terdengar,
terangkat dan terhormat.

Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
berdaulat bermartabat berkemanusiaan, sebagai Negara Adi Budaya, bukan Adi Kuasa,
dengan keragaman Bhinneka Tunggal Ika, terkumpulnya semua puncak-puncak kebudayaan,
dimana nilai-nilai adat bijak leluhur dan semua jenius pendahulu terolah dalam kecerdasan
alam-hayati dan karya-kerja Nusantara,
sebagai Bangsa Adi Budaya, penyangga keseimbangan dua benua dan dua samudera,
penengah dan pendamai, penyejuk dan peredam gejolak dunia dalam mengarungi dan
menemukan jawab krisis-krisis globalnya, pencetus inspirasi dan penggugah kebajikan,
membangun peradaban dunia dalam kerukunan antar-bangsa dan solidaritas kemanusiaan
menjadi pandu peradaban di planet bumi ini.

Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
sejak hari ini kita berkumpul di sini,
kita gali dari cerita kubur 100 tahun masa lalunya,
kita tobatkan dosa trauma berdarah 50 dan 30 tahun masa gelapnya,
kita rebut kembali 10 tahun masa de-formasi bangsa, tercarut-parutnya kehidupan bangsa,
ulah berhala-berhala politik dan dukun-dukun palsu yang meraja-lela berkedok demokrasi
untuk “pembangunan” dan “negara kesatuan” entah berantah,
kita rebut kembali arena bermain anak-anak kita dari kotoran anjing lapar pemakan bangkai
berbulu reformasi: para politisi-birokrat-tengkulak petualang, penggadai bumi, pembabat
hutan, penyamun lautan, pemangsa manusia, pengedar narkoba, penyebar AIDS, perompak
lasykar baju besi penteror rakyat, pengadu-baku bunuh suku-bangsa-agama sesaudara
Indonesia . . .

Inilah Indonesia yang kita cita-citakan,
yang kita bangun kembali, dengan segenap upaya
kita bersama

Kita cerdaskan pendidikan, dimana sekolah adalah rumah untuk membangun karakter
anak bangsa, dimana buku dan media komunikasi adalah sumber inspirasi untuk
membangun kebudayaan Nusantara, bukan sekedar fotokopi hafalan, hiburan picisan
dan penjual sensasi murahan.

Kita agungkan para guru, para seniman, para rohaniwan dan budayawan, yang bekerja
dengan hati dan kesederhanaan, dan diberikan penghargaan dengan kelayakan
hidupnya tanpa harus menjadi melacurkan ilmu dan nuraninya kepada penguasa.

Kita rasionalisasikan birokrasi yang berakal-sehat, dimana pelayanan publik adalah
ukuran prestasi, dan pelayannya selaku abdi-warga diberi penghargaan berdasarkan
prestasinya, sehingga mereka tak perlu korupsi dan menjual fasilitas kantornya.

Kita tertibkan penegakan hukum, dimana polisi, hakim, jaksa, dan tentara adalah pagar
penjaga tata kehidupan sosial, yang diberikan pengakuan dan penghargaan prestasi
kerjanya berdasarkan disiplin kehormatan dan etika profesi, sehingga mereka tak perlu
memeras dan berpungli, atau menjadi centeng mafia.
Kita awasi dan tertibkan kinerja lembaga demokrasi, dimana anggota badan legislasi
dan politisi dipilih karena mempunyai pemihakan kepada kepentingan bangsa, karena
integritasnya, karena kinerjanya, karena ketauladannya, dan bukan untuk persekutuan
partai atau konspirasi lobi beramplop.l

Kita pahamkan demokrasi dan politik, dimana pemihakkan kepada kesejahteraan
rakyat, pemerangan terhadap kepapaan keterbelakangan keterpurukan, pencanangan
visi Indonesia ke depan adalah menjadi cita-cita semua warga, dan menjadi pemersatu
bangsa lintas semua ideologi dan kepentingan kelompok.

Kita organisasikan kerja-karya-usaha semua warga, olah cipta rasa dan karsa, kucur
keringat, redup mata, bungkuk punggung, lunglai lengan, pegal kaki, adalah ibadah
mulia sebagai Usaha Bersama wujud semangat kegotong-royongan, dan menjadi
tulang punggung kehidupan keluarga, kesejahteraan desa, keunggulan kota, kesatuan
kawasan geo-bio-eko-etnik Nusa-Bahari, kekuatan ekonomi Bangsa lintas benua,
dimana karya cipta dan tenaga terbayarkan layak untuk kecukupan hidup dan
keberlanjutan usaha.

Kita sebarkan persahabatan dan kesetaraan,
juga kehangatan bertetangga dengan bangsa-bangsa di benua-benua antara
yang mereka dan kita saling memerlukan, saling menjaga, saling menghormati,
bertukar dan berdagang dalam pemenuhan kecukupan kesejahteraan masing-masing
warganya tanpa mengorbankan hari depan anak-cucu kita,
berbagi ilmu, teknologi, budaya, dan karya-karya yang mengabdi kepada perdamaian
dan kemanusiaan,
bukan untuk ketamakan entitas Adi Modal dan Adi Pasar,
bukan atas nama kepalsuan “keamanan” dan propaganda ketakutan teror-teror
buatan,
tapi untuk membangun peradaban dunia, Adi Budaya Dunia dan Adi Kemanusiaan,
bumi yang berpelangi, hangat hijau sejuk biru, dan tempat bersemai kehidupan.

Kita jaga kesucian amanat Pencipta,
bumi dan kehidupan ini.
Kita bersihkan untuk sekali dan seterusnya, kecoak-kecoak bangsa dan induk-induknya
yang lari bersembunyi di balik tirai gelap “pasar global” dan “keamanan internasional”
raja mafia dan agen-cecunguk-intelektualnya pengeruk kekayaan Nusantara yang sok
mengatur ekonomi negara yang tak lain untuk ketamakan pribadi dan korporasinya.
Kita eksekusi mereka, dan tak lagi ada pertinggal tengkulak-calo-lintahdarat, penjudigermo-
pengedar-narkoba, penjual-babu-dan-anak, pejabat pencoleng birokrasi,
perompak aset negara, maling-maling bank dan badan usaha negara, informan-agen
provokator pengadu-domba dan pembunuh, dukun-kiai-pendeta-penipu berkedok
spiritualitas-agama, pemeras dan penteror rakyat, penyamun lahan-ladang-hutan dan
perompak laut-bakau-dan-pantai.
Kita habiskan untuk sekali ini dan seterusnya,
sebagai wujud komitmen kita untuk cita-cita kebajikan hidup
keberanian berlaga untuk integritas pengabdian
yang kita pertanggung-jawabkan kepadaNya.

Saudaraku,
Sejak hari ini, kita berkumpul di sini,
kita serukan mars kota ini “ . . . mari Bung rebut kembali!”
bukan untuk negara kesatuan jadi-jadian yang bikinan mereka itu,
melainkan bagi Kesatuan Bangsa-Bangsa Nusantara,
kita-kita, rakyat dan warga di kepulauan bentang khatulistiwa ini,
dan hari depan anak-cucu bangsa,
ratusan bangsa dan bahasa, ribuan langgam tata cara adat kepercayaan seni-budaya agama
dan kepercayaan, jutaan corak tubuh muka wajah warna kulit rambut dan perangai, ratusan
juta kita manusia-manusia hamba Tuhan di Bumi Pertiwi ini.

Kini adalah waktu kita Saudaraku,
Selama ini kita diam, karena kita memang pendiam dan lebih suka berfikir, merasakan dan
bekerja, daripada banyak bicara.
Selama ini kita di belakang, memberikan kekuatan, karena kita mengerti adab dan arti
bergantian, beriring seperti semut yang tertib dan tahu tata susila, ingin memberi kesempatan
kepada yang muda yang baru yang perlu mengambil kesempatan.
Selama ini kita di tengah-tengah, menjadi jembatan, membangun karsa, menjalin jejajaring
dan komunikasi yang sehat, saling mendengar dan saling membisiki akan kebaikan.
Selama ini kita juga di depan, memberikan ketauladanan dalam kerja dan karya di tempattempat
sepi, di kelompok yang terlupakan, dan mengisi arti kehidupan.
Selama ini kita adalah oksigen-oksigen yang memberikan kesegaran, namun terlepas satu
sama lain, dan di tengah angin prahara keserakahan selama ini, terbawa lepas terbang dan
hanya bisa mengisi celah-celah musim yang kering.

Kini adalah era kita Saudaraku,
Elemen-elemen lepas diri kita masing-masing, oksigen-oksigen di sini bersatu dengan hidrogen
di sana menjadi molekul-molekul air dan mengkristalkan diri sebagai butiran es yang tajam
berkilau, bergabung merapat mengendap menghadap Bumi Pertiwi bak lapisan salju bersih
suci, berat sarat penuh energi, berlapis bersusun kompak dalam kelenturan dan kekuatan, siap
menunggu gemertak momentum alam untuk bergerak menjadi avalanche yang merambah
pelan tapi pasti menuruni lembah dan lereng mengguncang serempak dan memporakporandakan
kebathilan status-quo bangunan-bangunan kecongkakan kuasa para penentang
kebajikan . . .

Mari Saudaraku, rebut kembali kurun waktu kita,
abad-abad mendatang
untuk kelanggengan dan kelestarian biru danau, jernih sungai, lebat hutan, hijau sawah,
rimbun ladang, segar air, sepoi angin, kicau burung, tawa si upik, gelak si buyung, canda si
Karya, senyum si Wira, dan sinar bangga kita-kita sebagai anak-anak negeri, anak Nusantara.

Sejak hari ini, kita berkumpul di sini,
kita bersumpah setia kepada hati nurani dan Kebajikan Abadi
kita bangun Nusantara Bahari Negara Adi Budaya
yang masih bernama I n d o n e s i a.

Bandung, 21 Juni 2008
Kemal Taruc