Inilah Jihad Saya

Image

Oleh Difa Kusumadewi

Nasir Abas adalah mantan pemimpin Jamaah Islamiyah, beliau adalah mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI). Tahun 1993, Nasir dibaiat masuk JI oleh Zulkarnain, mewakili Ustadz Abdullah Sungkar. Pada Agustus 1997, Nasir dipanggil Mustafa ke Johor Baru untuk membicarakan pelantikannya menjadi Ketua Mantiqi III.

Setelah dilantik menjadi petinggi JI, Nasir Abas sering bersentuhan berbagai konflik di Indonesia, salah satunya konflik Poso. Menurut Nasir wilayah Poso, Sulawesi Tengah masuk dalam wilayah Mantiqi II JI berdasarkan rapat markaziah Jama’ah Islamiyah di Tawangmangu, Oktober 2002.

Pria berkacamata ini dikenal sebagai instruktur pelaku Bom Bali I 2002 di kamp mujahidin, Kamp Saddah di Afghanistan (awal 1990), dan Kamp Hudaibiyah di Mindanao. Nasir masuk angkatan ke lima pelatihan militer di Kamp Saddah. Tak heran jika Nasir merupakan tokoh teroris yang paling dicari di Asia Tenggara.

Mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) ini merasa telah menemukan makna baru tentang Jihad dalam Islam. Selama ini, kata dia, jihad yang dia pelajari adalah menganggap pemerintahan yang tidak Islam, Amerika Serikat, umat Kristen adalah musuh yang harus diperangi. Namun, hal itu berubah sejak tahun 2003 ketika dirinya ditangkap karena terlibat dalam teror bom di Indonesia.

Nasir mengatakan, persepsinya tentang pemerintah baik polisi maupun tentara dan umat Kristen keliru sejak di dalam penjara. Nasir mendapati kenyataan yang berbeda dari dua peristiwa. Peristiwa pertama adalah perkenalannya dengan Bertino Pati dan Hans, tokoh Kristen di kerusuhan Palu.

Tokoh kristen itu berlaku baik padanya, menunjukkan arah kiblat dan tetap berlaku sopan padanya. Itulah yang membuatnya berpikir mengapa ia harus memusuhi umat Kristen.

Setelah bebas pada Februari 2004, Nasir Abas tampil dengan karakter baru. Di matanya,  jihad adalah pertempuran dan membunuh pasukan asing yang menduduki negara Muslim seperti Soviet di Afghanistan, Amerika di Irak atau Filipina di wilayah Muslim di Mindanao, namun membunuh penduduk sipil, wanita dan anak-anak dilarang.

“Tugas kita hanyalah melindungi keyakinan kita pada Islam, melindungi kaum Muslim, melindungi tanah air kita.  Itulah jihad.  Namun bila Anda, bila kita, bila jihad berarti membunuh warga sipil, non-Muslim, itu bukan jihad. Karena yang saya ajarkan hanyalah untuk dipakai di medan perang, guna mempertahankan tanah air mereka.”

Mengenai kontroversinya yang membantu pihak kepolisian, ia mengatakan bahwa ia hanya membantu kepolisian, bukan bekerja untuk kepolisian.

“Saya bukan bekerja untuk pemerintah, namun membantu pemerintah sebagai konsultan untuk memerangi terorisme. Saya juga memberikan seminar dan secara personal mendatangi pelaku teror untuk mengetahui pemikiran mereka dan mencoba untuk menyadarkan mereka bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah salah.”

Saat ini ia aktif mengunjungi kawan-kawannya di penjara yang terlibat dengan tindakan terorisme. Ia berharap dapat berbicara dengan kawan-kawannya walau banyak dari mereka yang benci terhadap dirinya.

“Kadang ketika saya datang menemui mereka, mereka nampak marah dan benci kepada saya. Saya hanya bersilaturahmi dan mengajak mereka berbicara. Walaupun begitu, ketika saya menanyakan pada mereka apakah saya boleh menemui mereka kembali, mereka mengatakan bahwa saya boleh menemui mereka lagi walau dengan nada yang marah. Tapi saya pikir itu kemajuan. Ini adalah kesuksesan ketika mereka masih ingin bertemu dengan saya lagi”

Nasir juga bekerjasama dengan Profesor Sarlito untuk membuat program rehabilitasi bagi mantan teroris. Mantan teroris ini harus mengetahui dunia nyata, mereka harus dibina, dibantu secara finansial untuk melakukan usaha yang membantu perekonomian mereka. Mereka harus didekati dan diberitahu bahwa yang pernah mereka lakukan sebelumnya itu adalah salah.

“Jangan sampai mantan teroris ini kembali ke jalan yang salah karena kita tidak membantunya.”

Untuknya, jalan jihad yang sekarang diambilnya adalah dengan menyadarkan pelaku teroris agar tidak lagi merugikan masyarakat. Menurutnya Islam harusnya disebarkan dengan damai, dengan jalan dakwah,  bukan dengan kekerasan. Dengan membantu pihak kepolisian dan membantu kawan-kawannya agar keluar dari pemikiran jihad terorisme, ia berpikir bahwa inilah jihadnya sekarang.

“Dengan menyadarkan mereka (pelaku teroris dan mantan pelaku teroris) untuk kembali ke jalan Islam yang damai, Inilah jihad saya sekarang.”

Artikel ini telah dipublikasikan di The Citizen Daily

Photo credit: intelijen.co.id