FAQ LGBT

1. Apakah yang dimaksud dengan LGBT?[1]

Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang menyukai sesama jenis baik secara fisik, seksual, emosional, atau secara spiritual.

Gay atau “homo” adalah istilah untuk laki-laki ataupun perempuan yang memiliki kecenderungan seksual kepada sesama jenis. Pada awalnya kata gay merujuk pada kedua jenis kelamin yang menyukai sesama jenis, namun sekarang istilah tersebut lebih sering merujuk pada pria yang menyukai sesama jenis.

Biseksualitas adalah orientasi seks yang ketertarikan estetiscinta romantis, dan hasrat seksual kepada semua jenis kelamin  (pria dan wanita).

Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. “Transgender” tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual orangnya. Orang-orang transgender dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai  heteroseksualhomoseksualbiseksualpanseksualpoliseksual, atau aseksual.

2. Apakah LGBT tidak normal?

Tidak ada studi ilmiah saat ini yang menyimpulkan apakah terapi atau pengobatan yang mengubah orientasi seksual berhasil mengubah orientasi seksual seseorang. Upaya-upaya tersebut menjadi pertentangan antara nilai-nilai yang dipegang oleh beberapa organisasi berbasis agama, di satu sisi, dan yang dimiliki oleh organisasi hak asasi lesbian, gay, dan biseksual dan Lembaga profesional dan ilmiah, di sisi lain. Konsensus lama dari ilmu-ilmu perilaku dan ilmu sosial dan pakar kesehatan dan kejiwaan adalah bahwa homoseksualitas merupakan variasi normal dan positif dari orientasi seksual manusia.[2] Asosiasi Psikologi Amerika mengatakan bahwa “kebanyakan orang merasakan sedikit atau tidak sama sekali pilihan tentang orientasi seksual mereka”.[3]

 Pada tahun 1952, ketika Asosiasi Psikiatri Amerika pertama kali menerbitkan Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders, homoseksualitas dikategorikan sebagai gangguan mental. Namun, pengklasifikasian tersebut segera menjadi sasaran pemeriksaan kritis dalam penelitian yang didanai oleh Institut Kesehatan Mental Nasional. Studi dan penelitian berikutnya secara konsisten gagal menghasilkan dasar empiris atau ilmiah yang menunjukkan homoseksualitas sebagai gangguan atau kelainan. Dari berbagi kumpulan hasil penelitian homoseksualitas, para ahli bidang kedokteran, kesehatan mental, ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku mencapai kesimpulan bahwa pengklasifikasian homoseksualitas sebagai gangguan mental tidak akurat dan bahwa klasifikasi DSM mencerminkan asumsi yang belum teruji, yang didasarkan pada norma-norma sosial yang pernah berlaku dan pandangan klinis dari sampel yang tidak representatif yang terdiri dari pasien yang mencari terapi penyembuhan dan individu-individu yang masuk dalam sistem peradilan pidana karena perilaku homoseksualitasnya.

Sebagai pengakuan bukti ilmiah,[4] Asosiasi Psikiatri Amerika menghapuskan homoseksualitas dari DSM pada tahun 1973, menyatakan bahwa “homoseksualitas sendiri menunjukkan tidak adanya gangguan dalam penilaian, stabilitas, keandalan, atau kemampuan sosial umum atau vokasional.” Setelah meninjau data ilmiah secara seksama, Asosiasi Psikologi Amerika melakukan tindakan yang sama pada tahun 1975, dan mendesak semua pakar kejiwaan “untuk memimpin menghilangkan stigma penyakit mental yang telah lama dikaitkan dengan orientasi homoseksual.” Asosiasi Nasional Pekerja Sosial pun menerapkan kebijakan serupa.

Penelitian dan literatur klinis menunjukkan bahwa atraksi seksual dan cinta, perasaan, dan perilaku dalam konteks hubungan sesama jenis bersifat normal dan positif. Konsensus ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku dan profesi kesehatan dan kejiwaan menyatakan bahwa homoseksualitas merupakan variasi normal dan positif dari orientasi seksual manusia[5].Kini, terdapat bukti penelitian yang menunjukkan bahwa menjadi gay, lesbian atau biseksual sesuai dengan kesehatan mental normal dan penyesuaian sosial.  ICD-9 yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (1977) mencantumkan homoseksualitas sebagai penyakit kejiwaan; kemudian dihilangkan dalam ICD-10 yang disahkan oleh Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-43 pada tanggal 17 Mei 1990.[6] Seperti DSM-II, ICD-10 menambahkan orientasi seksual ego-distonik, mengacu kepada individu yang ingin mengubah identitas gender atau orientasi seksual mereka karena gangguan perilaku atau psikologis( F 66,1 ).

Kesimpulannya, para pakar kejiwaan dan peneliti telah lama mengakui bahwa menjadi homoseksual tidak menimbulkan hambatan untuk menjalani hidup yang bahagia, sehat, dan produktif, dan bahwa sebagian besar kalangan gay dan lesbian bekerja dengan baik di berbagai lembaga sosial dan hubungan interpersonal.

3. Apakah yang menyebabkan LGBT?

Terdapat beberapa teori yang menyebabkan LGBT, namun masih dalam proses penelitian lanjutan. Beberapa pakar mengatakan LGBT disebabkan oleh hormon dan genetik, beberapa pakar juga mengatakan bahwa perilaku ini disebabkan oleh lingkungan, dan ada pula yang mengatakan bahwa perilaku ini disebabkan oleh keduanya, baik faktor genetik dan lingkungan. Penelitian terbaru mengatakan bahwa

Namun, apapun penyebabnya, LGBT bukanlah kelainan yang merugikan orang lain. LGBT hanyalah spektrum gender dan orientasi seksual.

4. Apakah LGBT hanya ada pada manusia?

LGBT tidak hanya terjadi pada manusia. Beberapa hewan lain melakukan perilaku homoseksual, seperti bonobo, lumba-lumba, simpanse, anjing, kucing, dan hewan-hewan lain yang memiliki syaraf otak yang kompleks.

Hewan-hewan kompleks tidak hanya menjadikan aktivitas seksual untuk reproduksi, tapi juga untuk rekreasi dan kepentingan kelompok. Pada kasus Bonobo, perilaku seksual mereka disebabkan tidak hanya hasrat seksual tapi untuk menghindari kekacauan kelompok akibat jenis kelamin yang tidak seimbang.

5. Benarkah LGBT adalah budaya ‘Barat’?

LGBT bukanlah sebuah budaya dan tidak hanya ditemukan dalam kebudayaan ‘Barat’. Perilaku homoseksual dan transeksual ditemukan pada hampir setiap budaya.Berikut adalah budaya-budaya yang mengenal LGBT.

Homoseksualitas di Cina, dikenal dengan sebutan “kenikmatan buah terlarang”, “potongan lengan baju”, atau “adat selatan”, telah tercatat sejak tahun 600 SM.

Homoseksualitas di Jepang, dikenal sebagai shudo atau nanshoku telah didokumentasikan selama lebih dari seribu tahun dan memiliki beberapa kaitan dengan kehidupan monastik Buddhis dan tradisi samurai. Budaya cinta sesama jenis melahirkan tradisi yang kuat dalam seni lukis dan sastra Jepang yang mendokumentasikan dan merayakan hubungan tersebut. [7]

Di Thailand, Kathoey, atau “ladyboy,” telah menjadi corak masyarakat Thailand selama berabad-abad, dan raja-raja Thailand memiliki pasangan baik laki-laki maupun perempuan. Meski kathoey meliputi kebancian atau kekedian, tapi secara umum keberadaan mereka diterima dalam budaya Thailand sebagai gender ketiga. Mereka umumnya diterima oleh masyarakat, dan negara tidak pernah memiliki hukum yang melarang homoseksualitas atau perilaku homoseksual.

Tradisi seni dan sastra bermunculan membangun homoseksualitas di Timur Tengah. Di negara-negara Arab pada abad pertengahan dan Persia, penyair muslim – kadang Sufi – menulis syair-syair pujian bagi para remaja lelaki tampan pembawa anggur yang melayani mereka di kedai-kedai minum. Di mayoritas daerah, praktik ini bertahan hingga masa modern, seperti yang didokumentasikan oleh Richard Francis Burton, Andre Gide, dan lain-lain.

Di Persia homoseksualitas dan ekspresi homoerotik ditoleransi di banyak tempat umum, dari biara-biara dan seminari-seminari hingga bar, kamp militer, pemandian, dan kedai kopi. Pada masa Safawiyyah awal (1501-1723), rumah-rumah prostitusi laki-laki (amrad khane) secara hukum diakui, dan membayar pajak.

Dua bentuk paling umum yang didokumentasikan adalah perilaku seks komersial dengan transgender muda laki-laki atau laki-laki yang berpura-pura sebagai transgender yang dicontohkan oleh penari-penari köçek dan bacchá, dan praktik spiritual Sufistik saat para penyair mengagumi keindahan bentuk seorang anak untuk memasuki keadaan yang bahagia dan melihat sekilas keindahan Tuhan.

Pada suku Bugis di Sulawesi Selatan, terdapat setidaknya empat identitas gender yang diakui ditambah identitas kelima yaitu ‘para-gender’. Selain laki-laki (oroane) dan perempuan (makunrai) (kategori yang mirip dengan yang terdapat di Australia), ada pula calalai* secara biologis ia adalah perempuan yang mengambil banyak peran dan fungsi yang diharapkan dari laki-laki; calabai  secara biologis ia adalah laki-laki yang dalam banyak hal mematuhi harapan wanita, dan Bissu.  Bissu adalah pendeta di tengah suku Bugis di Sulawesi Selatan. Bissu digambarkan sebagai sosok berkelamin ganda yang membawa unsur perempuan dan laki-laki.[8]

6. Benarkah LGBT dapat ‘disembuhkan’?[9]

Berbagai macam terapi dilakukan guna “menyembuhkan” penderitanya. Beberapa terapi yang pernah dipakai oleh terapis untuk menangani pasien yang bermasalah dengan orientasi seksualnya adalah terapi aversi, terapi konversi, psikoterapi afirmatif gay, dll.[10]

Terapi Aversi

Terapi ini menggunakan salah satu metode behavioral, di mana terapi ini mengurangi perilaku/respons yang tidak diinginkan dengan cara memasangkan stimulus menyenangkan dengan stimulus yang dibenci. Salah satu penerapannya, awalnya elektroda (semacam pengejut listrik) dipasangkan pada kemaluan pasien, kemudian pasien dipertontonkan film porno gay. Ketika pasien terangsang, elektroda akan mengalirkan listrik dan memberikan efek shock kepada pasien. Setelah itu, pasien dipertontonkan film porno heteroseksual, dan kejutan listrik tidak diberikan. Bentuk lainnya adalah, film porno gay dipasangkan dengan ipecac (sirup obat yang bikin mual dan muntah). Sejak 2006, terapi ini dinyatakan sebagai pelecehan terhadap kode konduksi dan panduan profesional APA dan American Psychiatry Association. Gangguan jiwa dan bunuh diri kemudian dinyatakan sebagai salah satu akibat dari terapi aversi.

Terapi Konversi

Tokoh-tokoh dalam terapi ini: Sigmund Freud, Isidor Sadger, Felix Boehm, Sandor Ferenczi, Anna Freud, Melanie Klein, dll. Sigmund Freud menyatakan bahwa kesuksesan dalam terapi psikoanalitisnya hanya sebatas memunculkan kecenderungan heteroseksual, dan bukan menghilangkan perasaan homoseksual. Kebanyakan pasien ingin menjadi heteroseksual dilandasi oleh alasan-alasan yang kurang tepat, termasuk ketakutan akan penolakan lingkungannya.

Jenis teknik dalam terapi konversi adalah modifikasi perilaku, terapi ex-gay, psikoanalisis, terapi reparatif, dan terapi seks.

Pada tahun 2001, Robert Spitzer melakukan sebuah studi mengenai terapi konversi dan terapi ex-gay. Studi ini sering dikutip untuk mendukung “penyembuhan” homoseksual. Studi ini menunjukkan 66% pria dan 44% wanita berhasil “sembuh” dari homoseksualitasnya. Namun studi ini dinyatakan bias, karena kebanyakan sampelnya merupakan orang yang religius, pelayan di gereja. Selain itu, Spitzer tidak mengukur apakah partisipannya berbohong atau denial setelah terapi selesai. Beberapa tahun kemudian, pada 2012, Spitzer menyatakan permohonan maafnya kepada komunitas gay atas kesimpulan salah dari studinya itu dan meminta organisasi-organisasi terapi ex-gay berhenti mengutip studinya sebagai bukti terapi konversi. Terapi konversi dinyatakan berbahaya bagi pasien homoseksual.

Terapi Pelukan

Terapi ini dijalankan oleh Richard A. Cohen. Dia sendiri sebelumnya adalah seorang gay. Menurutnya, beberapa pria gay tidak mendapatkan kasih yang cukup dari ayahnya, karena itu teknik yang dia gunakan adalah dengan memeluk pasien gay-nya dengan maksud memberikannya afeksi.

Terapi Penguatan Gender

Teknik terapi Penguatan Gender adalah dengan memaksa pria gay untuk melakukan kegiatan-kegiatan maskulin seperti olahraga dan kuli bangunan, dan wanita lesbian melakukan kegiatan feminin seperti make-up dan menggendong bayi. Terapi ini terlalu meng-stereotype gender antara laki-laki dan perempuan.

Equine-Assisted Psychotherapy (Terapi Kuda)

Beberapa orang yakin bahwa berinteraksi dengan kuda dapat menyembuhkan mental orang. Raymond Bell mengklaim bahwa terapi ini juga dapat digunakan untuk menyembuhkan homoseksualitas.

Primal Therapy

Dipopulerkan oleh Arthur Janov. Teorinya, masalah-masalah psikologis disebabkan oleh trauma masa kecil, contohnya seperti ketika dalam proses kelahiran. Cara mengatasi insiden traumatis ini adalah dengan merekonstruksi/menciptakan ulang kejadian trauma tersebut, dan kemudian klien melepaskan semua emosi-emosi terpendamnya dengan cara berteriak. Arthur mengklaim bahwa pasien homoseksual yang mengikuti terapi ini melaporkan tidak mengalami perasaan dan fantasi homoseksual lagi, karena itu homoseksual tidaklah disebabkan oleh faktor genetik. John Lennon dan Steve Jobs merupakan pengikut gerakan terapi ini (terapi ini tidak hanya untuk homoseksual, sebenarnya). Sayangnya, teori ini tidak didukung studi empiris.

Terapi Agama

Terapi agama adalah dengan melakukan doa bersama untuk mengusir setan yang masuk ke dalam tubuh orang yang mempunyai perilaku seksual yang dianggap menyimpang. Mereka menganggap perilaku ‘penyimpangan’ disebabkan oleh iblis yang merasuk ke dalam tubuh orang-orang LGBT, sehingga harus diusir dari tubuhnya dengan mantera dan doa-doa.

Psikoterapi Afirmatif Gay

Panduan dan materi untuk psikoterapi ini disusun oleh APA. Psikoterapi afirmatif gay adalah bentuk psikoterapi bagi gay dan lesbian untuk menguatkan mereka dan agar mereka dapat menerima orientasi seksualnya dan tidak berusaha mengubahnya menjadi heteroseksual atau menghilangkan ketertarikan sesama jenisnya. Landasan psikoterapi ini adalah pernyataan bahwa “homoseksualitas atau biseksualitas bukanlah sebuah penyakit jiwa”. Pada saat ini, jenis terapi ini merupakan terapi yang paling diterima, sementara terapi lain yang bermaksud mengubah gay menjadi heteroseksual dipandang tidak sehat dan dapat merusak.

7. Benarkah semua pedofil adalah gay?

Hal ini sangat bias. Pelaku pedofil juga terjadi pada heteroseksual. masyarakat yang bias sering berpikir bahwa kebanyakan pelaku pedofilia adalah gay atau ada ‘kelainan’ seksual lainnya.  Kteika seorang gay melakukannya, masyarakat sering kali mengaitkan dengan orientasi seksual yang melekat pada dirinya, namun ketika hetero yang melakukan perbuatan pedofilia, mereka tidak dilihat dari orientasi seksual, tapi pribadinya yang menyebabkan pedofilia.

8. benarkan pasangan gay akan merusak psikologis anak yang diasuhnya?

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa orang tua yang lesbian dan gay cocok mampu sebagai orang tua sama halnya dengan orang tua yang heteroseksual. Anak-anak yang diasuh oleh pasangan homoseksual, sehat secara psikologis dan mampu menyesuaikan diri dengan baik seperti anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua heteroseksual Menurut tinjauan literatur ilmiah, tidak ada bukti sebaliknya.

Sebuah penelitian yang kontroversial di Australia menemukan bahwa anak yang dibesarkan oleh pasangan gay biasanya lebih sehat dan penurut dibandingkan dengan anak dari pasangan heteroseksual. Anak yang berusia lima sampai 17 tahun yang hidup dengan pasangan homoseksual memiliki kesehatan yang lebih baik secara umum.

Hasil ini ditemukan oleh peneliti di University of melbourne di Australia setelah meneliti 500 anak berusia satu sampai 17 tahun yang menjadi bagian dari The Australian Study of Child Health in Same-Sex Families.

Tak hanya masalah kesehatan, kedekatan keluarga pada anak yang dibesarkan oleh pasangan gay juga lebih baik. Anak yang dibesarkan oleh pasangan gay lebih jarang membantah orang tua mereka dan lebih penurut. Sementara dalam hal kepercayaan diri dan kesehatan emosional, tak ada perbedaan antara anak yang dibesarkan oleh pasangan gay atau pasangan heteroseksual.

Hingga saat ini peneliti tak menemukan alasan mengapa kesehatan anak yang dibesarkan oleh pasangan homoseksual lebih baik, serta lebih mudah berkomunikasi dengan orang tuanya. Dr Simon Crouch menjelaskan bahwa bisa jadi hal ini disebabkan oleh situasi dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan homoseksual.

“Anak-anak yang dibesarkan oleh pasangan homoseksual lebih dekat dengan keluarga dan mau berkomunikasi secara terbuka dengan orang tua karena mereka menghadapi masalah seperti bullying atau ejekan di sekolah. Itu hipotesis kami,” ungkap Crouch, seperti dilansir oleh Daily Mail(06/06).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Cambridge’s Centre for Family Research sebelumnya juga menemukan bahwa anak yang dibesarkan oleh pasangan gay tak menemukan hambatan dalam hidupnya, dan kebanyakan dari mereka tidak menjadi korban bullying.[11]


[1] Wikipedia

[4] JAMA: Gay Is Okay With APA (American Psychiatric Association); available online:http://www.soulforce.org/article/642

[6] Shoffman, Marc (May 17, 2006), “Homophobic stigma – A community cause”PinkNews.co.uk,

[8] Sharyn Graham, diterjemahkan oleh Tim Anda Bertanya LGBT Menjawab “Jenis Kelamin, Gender, dan Pendeta Agama di Sulawesi Selatan” https://www.facebook.com/notes/anda-bertanya-lgbt-menjawab/jenis-kelamin-gender-dan-pendeta-agama-di-sulawesi-selatan-indonesia/249398318435066