Studi Mengenai Ateisme

Atheism

Atheism

 

Menanggapi stigma “negara sekuler adalah negara ateis” atau stigma “Sekuler=ateis”, maka saya memberikan penjelasan mengenai ateisme berdasarkan studi literatur dan wawancara kepada kaum ateis. Sebelumnya saya sudah menuliskan penjelasan mengenai negara sekuler. Jelas sekali perbedaan antara negara sekuler dan negara ateis. Negara ateis, atau negara yang melarang rakyatknya beragama adalah negara tiran. Sedangngkan ateisme sendiri adalah pilihan dan pandangan hidup.

 

Berikut saya jabarkan FAQ mengenai “ateisme”. Saya harap kita semua bisa melihat perbedaan antara ateisme dan sekulerisme. Dan saya juga berharap kita bisa menghargai pilihan kaum ateis.

 

 

Apakah yang dimakud dengan ateisme?

Ateisme adalah ketidakpercayaan akan adanya Tuhan ataupun dewa-dewa. Berbagai alasan ketidakpercayaan terhadap Tuhan dan dewa-dewi. Dari alasan saintifik, filosofis, maupun alasan humanisme. Setiap orang memiliki alasan ketidakpercayaan masing-masing. Yang menyamakan seorang ateis satu dengan lainnya hanyalah posisi yang sama, yaitu posisi ketidakpercayaan kepada Tuhan.  Ateisme berasal dari kata ‘a-teisme’ yang berarti negasi terhadap teisme. Banyak yang salah kaprah dengan menganggap bahwa ateisme berasal dari kata ‘ate-isme’ yang berarti bentuk ‘isme’ atau ideologi. Kesalahan konsep ini yang sering membuat orang lain berpikir bahwa ateisme sama dengan isme-isme lain seperti agama.

 

 

Klaim bahwa ateis melewatkan pertanda-pertanda dalam ketidakpercayaan mereka tidak terbenarkan. Mengapa Ateis tidak mengklaim diri sebagai agnostik saja?

Untuk menerapkan konsistensi agnostik ini, anda juga harus menjadi agnostik pada pokok permasalahan apapun, termasuk kepada kepercayaan anda. Karena dalam setiap ide selalu memungkinkan terjadi kesalahan. Menjadi agnostik kepada Tuhan karena ketidakberadaan Tuhan yang tidak dapat dibuktikan sama dengan menjadi agnostik terhadap peri hutan atau setan laut karena ketidakberadaannya juga tidak dapat dibuktikan.

 

 

Apakah Ateisme merupakan iman?

Ateisme bukanlah posisi iman. Untuk itu, kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan iman dan rasio. Ateisme bukanlah posisi iman karena ateisme tidak percaya pada yang di luar bukti yang tersedia dan argumen yang mendukung. Kepercayaan agama adalah posisi iman karena kepercayaan agama pergi melampaui ketersediaan bukti atau argumen pendukung.

 

 

Apakah orang ateis yang tidak percaya tuhan memiliki etika?

Moralitas bisa ada tanpa Tuhan. Itu berarti kaum ateis tidak hanya lebih dari sekedar mampu menjalani kehidupan bermoral, mereka bahkan mungkin mampu menjalani hidup lebih bermoral ketimbang pemeluk agama yang menggunakan hukuman ilahi dengan benar dan salah.

 

Apa yang akan menghentikan Anda melakukan sesuatu yang buruk? Apakah jika tidak ada Tuhan anda akan melakukan sesuatu yang buruk? merupakan moralitas yang buruk jika seseorang hanya dapat bertindak menurut etika jika seseorang melakukannya sebagai hasil takut hukuman atau janji imbalan. Orang yang tidak mencuri hanya karena mereka takut tertangkap bukanlah seorang bermoral, namun seorang pengecut. Orang yang sungguh bermoral adalah orang yang memiliki kesempatan untuk mencuri tanpa tertangkap tapi tetap tidak melakukannya. Ateis dan teis berada pada keadaan yang sama. Tidak ada yang dapat menghindari memilih nilai moral mana untuk diikuti dan mengambil tanggung jawab dari nilai moral tersebut.

 

Banyak yang menanyakan dari mana datangnya moralitas orang yang tidak beragama. Namun, sangat jarang menanyakan kepada diri sendiri, “Mengapa mereka memilih moralitas A atau B”, atau menanyakan “Apa alasan mereka bermoral?”. Apakah seorang bermoral atau memilih moral A karena takut hukuman Tuhan? Untuk orang yang tidak beragama,  moralitas adalah tindakan atau keputusan terbaik untuk diri sendiri dan orang lain.

 

 

Apakah tujuan hidup orang ateis?

Tujuan hidup orang-orang ateis sangat beragam dan tergantung pada visi hidup masing-masing. Tanpa ide tantang Tuhan dan kehidupan mendapatkan surga, tujuan hidup kita dapat lebih luas dan berwarna tanpa dikejar oleh batasan-batasan untuk mendapatkan tempat setelah kematian.

 

Memahami nihilistik dengan mengetahui bahwa kita akah kehilangan eksistensi setelah kematian, bukan berarti membuat kita sebagai manusia menjadi depresi dan ingin mengakhiri hidup. Ada atau tidak ada Tuhan, kita dapat memaknai hidup dengan hasrat-hasrat kita sendiri dan tidak hanya tujuan-tujuan apapun atau yang siapapun ciptakan bagi kita. Itulah kenapa teori evolusi juga tidak menyediakan hidup dengan makna apapun. Evolusi mengatakan pada kita alasan kenapa kita ada, dalam pemahaman tertentu, adalah untuk memperbanyak DNA. Namun penjelasan evolusi hanyalah penjelasan mengenai tujuan genetis kita. Kita sendiri dapat memilih tujuan hidup kita dan menikmati hidup bersama individu lain dengan beraneka warna.  Hidup yang sangat sebentar membuat kita dapat menikmati pencapaian-pencapaian. Bayangkan, betapa membosankan hidup selama-lamanya yang membuat pencapaian kita nampak tidak berarti karena kesempatan yang tidak terbatas. Begitulah kaum ateis memaknai hidup dan memilih tujuan hidupnya yang bermakna.

 

 

Apakah ateisme sama dengan fasisme NAZI dan Komunisme?

Tentu tidak sama. Dari definisi yang telah saya sebutkan di atas, ateisme hanyalah posisi ketidakpercayaan pada eksistensi Tuhan dan dewa-dewi.  Menurut Fredrick Engels, Komunisme adalah doktrin mengenai keadaan bagi kemerdekaan proletariat.

 

Sering sekali kita melihat tudingan bahwa ateisme bertanggung jawab atas fasisme  dan pemikiran komunisme.  Namun, jika kita melihat sejarah, Gereja Katolik berpihak pada Franco yang fasis dalam Perang Saudara di Spanyol sampai tahun 1960an. Di Italia, Vatikan bahkan menandatangani perjanjian Lateran yang terkenal dengan reputasi buruk dengan pemerintahan Fasis pada 1929, memberikan saling pengakuan antara Italia fasis dan Negara Vatikan dan menjadikan Mussolini pemimpin yang di bawahnya Katolik Roma menjadi agama resmi Italia.  Nazi Jerman pun bukanlah negara ateis. Hitler sendiri bahkan mempertahankan pandangan tradisional Jerman tentang wanita yang perlu berpusat pada “Kirche, Kuche, Kinder” – Gereja, dapur, dan anak-anak.   Bahkan sebuah concodart, perjanjian dari bagian hukum gereja katolik dan pemerintah berkuasa yang memberi gereja hak istimewa, ditandatangani pemerintah Nazi dan Gereja Katolik pada 1933. Kerja sama antara gereja Protestan dan  Nazi sangat dekat dengan disokong oleh tradisi anti-Semit dalam Protestanisme Jerman.

 

Dalam kasus komunisme Soviet, negara tersebut mengakui secara resmi ateis. Namun, keputusan yang diambil oleh pemerintah Komunis Soviet tidak ada hubungannya dengan ateisme. Komunisme Soviet memiliki berakar dari pemikiran komunis Karl Marx. Marx dikenal atas kata-katanya bahwa agama adalah “candu bagi rakyat”. Tapi adalah salah mengambil frasa tersebut secara terpisah dan, maka, mengandaikan bahwa Marx berpikir agama perlu dihapuskan dengan paksaan sesegera mungkin. Marx sungguh percaya penghapusan agama, tapi cara melakukannya adalah menciptakan sebuah masyarakat tempat di dalamnya orang-orang tidak lagi membutuhkan penghiburan agama. Tidak perlu melarang agama karena dalam negara komunis agama menjadi sama sekali tidak dibutuhkan. [1]

 

Di Indonesia, komunisme sendiri bahkan berawal dari Serikat Dagang Islam (SDI) yang merubah gerakannya menjadi SDI Merah yang kemudian menjadi PKI. Tidak sedikit kita menjumpai tokoh-tokoh komunis yang beragama. Dapat kita ambil contoh Tan Malaka,  tokoh Marxis Indonesia yang juga bapak pendiri Republik ini. Kta dapat melihat pandangan Tan Malaka tentang agama dalam kata-kata yang diucapkannya saat berpidato di kongres Komunis Internasional tahun 1922 di Rusia.

 

“Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim — ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan — ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!”

 

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa menganggap ateisme menyebabkan fasisme dan komunisme, sama dengan menganggap bahwa fasisme dan komunisme disebabkan oleh kumis, dan semua orang berkumis pastilah fasis dan/atau komunis.

 

 

[1] J Baggini, “Atheism A very Short  Introduction”. Oxford University Press: 2003