Celotehan Twitter Saya @DewiDifa tentang Sains (270312)

science

 

Mengajarkan sains diawali dengan berpikir kritis. Pencarian kebenaran diawali dengan meragukan sesuatu.

Sikap mempertanyakan atau skeptisisme adalah dasar dari pemikiran kritis yang menghasilkan ilmu pengetahuan.

Mereka yg skeptis tdk langsung melihat gejala sebagai fenomena mistik, tapi mencari penjelasan yg dpt dibuktikan.

Sains sendiri adalah metode untuk mencari kebenaran atau bukti. Ada beberapa tahapan metode saintifik

  1. Mempertanyakan fenomena. Setiap fenomena yg dicari buktinya harus dipertanyakan terlebih dulu
  2. Membuat hipotesis, yaitu kemungkinan jawaban dari pertanyaan tersebut. Hipotesis hrs dpt dibuktikan benar/salah. Pernyataan “nasi lebih enak daripada roti” bukanlah hipotesis, karena tidak dapat dibuktikan salah atau benar. Pernyataan “org Indonesia lebih suka nasi daripada roti ” adl hipotesis sains, krn dpt dibuktikan dgn eksperimen.
  3. Merencanakan eksperimen. Eksperimen dpt membuktikan hipotesis salah, tapi blm tentu buktikan hipotesis benar
  4. Melakukan eksperimen dan mengumpulkan data sesuai perencanaan sebelumnya
  5. Membuat kesimpulan dari eksperimen. Hasil eksperimendpt menyimpulkan bahwa hipotesis yg kita susun salah/benar.
  6. Mengomunikasikan hasilnya pada khalayak umum. Ketika hipotesis, metode, & hasil penelitian dipublikasikan, maka dpt digunakan utk kembangkan penelitian berikutnya. Tidak hanya itu, segala hasilnya dapat dikritik, diuji ulang, dan diperbaiki dengan fair

Dalam pendidikan sains, kita harus membuat rasa penasaran itu muncul dulu.

Mengajarkan sains berarti mengajarkan sifat rendah hati dan bersedia untuk dikritik. Sains berkembang karena adanya kritik