Urban Social Movements

Social movement

Social movement

Sebelum protes-protes sosial menjalar di Amerika dan Eropa pada sekitar pertengahan tahun 1960 dan 1970, secara garis besar, peneliti tidak mempunyai masalah dengan kehidupan perpolitikan kota.  Ahli perpolitikan Amerika yang mendominasi urban politik di tahun 1960an memfokuskan pada siapa yang membuat keputusan politik dan siapa yang mempengaruhi pemerintahan.

 

  1. 1.      Definisi Gerakan Sosial Perkotaan

Social movements atau gerakan sosial adalah pelaku sosial kolektif didefinisikan oleh kedua organisasi mereka dan tujuan mereka. Walaupun gerakan mungkin saja meliputi organisasi dengan daftar member, struktur mereka tidak fix dan selalu berproses karena gerakan adalah fenomena yang tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi. Tujuan mereka selalu beroposisi dengan kekuatan yang telah berdiri, tetapi konten spesifik dari sasaran mereka dan apapun sikap mereka, bertahan atau transformatif, reaktif atau progresif, dapat berubah tergantung konteks dan pembangunan internal di dalamnya.

Ketika “old social movements” dihasilkan dari struktul kelas industi kapitalis dan ditujukan untuk mencabut ketidaksetaraan materilyang dihasilkan oleh pembayaran hasil produksi, “the new social movements” melintasi kelas dan berpegang pada pertimbangan non-material.

Urban Social Movements adalah kategori dari “new social movement”. Secara khas mereka menantang tugas pemerintah dalam memproduksi atau memperkuat distribusi kekuatan dan sumber daya yang tidak merata.

 

  1. 2.      Isu

Penekanan baru pada gerakan sosial perkotaan dan seiring mengecilkan peran partai berbasis kelas dalam mendorong perubahan perkotaan telah menimbulkan sejumlah isu antara para peneliti umumnya bersimpati dengan gerakan tujuan transformasi sosial. Tiga diantaranya akan dibahas di sini 1.Apakah gerakan sosial perkotaan sebenarnya  digantikan gerakan berbasis kelas?
2. Apakah gerakan sosial perkotaan harus progresif?
3. Sejauh mana gerakan dapat dianalisis secara independen dari konteks mereka?\

 

Gerakan Sosial dan kelas

Dalam “The Urban Question” Castells (1977 : 376-7) berargumen bahwa gerakan sosial perkotaan adalah pemindahan perjuangan kelas dari lingkungan kerja ke kota besar.  Dalam pekerjaan terakhirnya Castells (1983) berangkat lebih jauh dari marxisme ortodoks, menyangkal pengurangan sebelumnya mengenai semua perselisihan perkotaan dengan konflik kelas dan memperkenalkan budaya sebagai kekuatan pendorong.

Bagi mereka yang bersangkutan tidak hanya dengan gerakan sosial perkotaan tetapi juga dengan gerakan sosial baru secara umum, peran negara dan ekonomi yang terendam pertanyaan budaya, kesadaran dan identitas.

 

Kemajuan Karakter Gerakan Sosial Kota

Castell berpendapat bahwa gerakan sosial perkotaan mengembangkan alternatif untuk menyusun dominasi. Harry Boyte mengklaim bahwa gerakan sosial perkotaan  menghasilkan visi yg diperbaharui dari demokrasi langsung digabung dgn ketidakpercayaan pada institusi besar, publik & privat

 

Kemandirian gerakan

Meskipun tidak ada menegaskan bahwa keberhasilan atau kegagalan gerakan sosial perkotaan hanya bergantung pada sumber daya internal mereka, perdebatan telah timbul lebih dari apa pun yang mungkin untuk mengembangkan teori umum gerakan seperti yang akan mencakup semua kasus terlepas dari konteks sejarah mereka.  Castell (1983, 1985) mengusulkan sebuah teori, trans-historis lintas-budaya dari perubahan sosial yang dicapai oleh gerakan sosial perkotaan untuk memobilisasi sekitar tiga tujuan konsumsi kolektif, identitas budaya, dan politik pengelolaan diri.

 

  1. 3.      Ilustrasi dan Aplikasi

 

Gerakah Tahun 1960an dan awal 1970

Pada akhir 1960an pergerakan protes muncul di banyak kota di seluruh US, gabungan antara etnis, client status dan wilayah (Fainstein & Fainstein, 1974). Mereka membuat kantor pemerintah lokal sebagai target, dengan peran mereka sebagai penyedia dari pelayanan konsumsi bersama seperti Perumahan, Kesehatan dan Pendidikan, dan sebagai sponsor dari physical redevelopment.

Pergerakan/movement ini muncul dlm konteks kepincangan ekonomi besar2an bagi African American, yg disebabkan oleh kapitalisme dari pertanian Southern (Southern agriculture, agrikultur daerah2 Selatan US). Imigran kulit hitan, yg telah pindah ke daerah dalam kota dari kota tua Amerika untuk mencari kerja, mereka menemukan bahwa meski pertumbuhan ekonomi nasional, mereka tidak diikut sertakan dari partisipasi dalam pasar kerja utama. Lebih lanjut lagi, meski mereka tergantung dari pelayanan publik, mereka menderita dari pengabaian dan diskriminasi dari penyedia pelayanan tsb yg sebagian besar kulit putih. Karena mereka kekurangan cara efektif untuk mengatasi masalah pekerjaan tsb, mereka mengarahkan perhatian pada birokrasi publik yg masuk pada wilayah tinggal mereka (Lipsky, 1970). Karena kemampuan mereka untuk vote belum bisa dimanfaatkan sbg pengaruh politik, maka mereka menggunakan taktik disruptif seperti demonstrasi masal, Sit-ins (sengaja duduk rame2 di tempat2 segregasi khusus kulit putih, atau duduk di tempat pemerintah), dan ambil alih sekolah dan gedung publik lainnya.

African American telah lama menderita kerugian/ perampasan (deprivation) di kota2 US. Mobilisasi nasional di kota2 northern, hanya ada pada saat kekuatan politik lokal dan nasional menyediakan kesempatan (Piven & Cloward, 1971). Civil rights movement telah meningkatkan kesadaran ras di antara northern blacks dan meningkatkan kekuatan politik nasional dari orang kulit hitam. War on Poverty dan supply makanan dari berbagai program membuka jalan untuk partisipasi dan berbagai posisi community organizer dalam suatu lingkungan, menghasilkan infrastruktur pemimpin, organisasi dan fasilitas yang bisa dipekerjakan untuk tujuan menghasilkan suatu pergerakan. Karena itu kondisi kurangnya material, solidaritas berdasar ras dan wilayah, menghasilkan ‘cultural awareness’ dan kesempatan politik yg digabung untuk menstimulasi pembentukan pergerakan dalam periode ini (Fainstein & Fainstein, 1985)

Di Eropa, mobilisasi perkotaan meletus pada periode 1965-1973 dalam menanggapi sosilisasi konsumsi pada sektor perumahan. Pada daerah paris misalnya, pemerintah membangun kompleks perumahan low-rent yang besar , yang dinamakan ‘The Grand Ensembles’ pada batas kota. Gedung tersebut didesain dan dibangun dengan biaya minimal (Castells, 1983). Isu kemudahan dan keselamatan kemudian memberikan dasar yang signifikan bagi mobilisasi penduduk langsung terhadap negara sebagai penyedia dan pengelola perumahan.

Kontras dgn US, proyek perumahan umum ini ditempati oleh penduduk klas pekerja dan kelas menengah, jadi menuntun mereka untuk membentuk aliansi antar kelas. Walaupun terdapat ketegangan antara

 

US Neighbourhood Movement

Selama tahun 70an militansi dan peran USM berkurang dramatis dan yg mengambil alih tempat mereka adalah kumpulan mobilisasi, yang di US dinamakan “the neighborhood movement” (boyte, 1980). Banyak dari organisasi komunitas yg berpartisipasi dalam pergerakan sosial amerika ini didominasi oleh pemilik rumah. Secara kontras, di Eropa dimana pergerakannya ditujukan untuk mempengaruhi konsumsi bersama terus bermunculan, aktivis biasanya berasal dari penyewa perumahan.”Backyard revolution” (Boyte, 1980) di US berevolusi di dalam konteks tumbuhnya insekuritas ekonomi, ketakutan terhadap ekspansi kekuatan korporasi, dan kekecewaan terhadap pemerintahan. Ini sangat terinspirasi dari tradisi populis Amerika yg menolak semua ideologi dan menekankan demokrasi grassroot dan ketidakpercayaan bersama pada semua institusi besar,baik  publik & privat.

US neighborhood movement adalah fenomena yg menjangkau koalisi progresif kota, organisasi komunitas berbasis ras, kelompok life style seperti gays yg mencari otonomi wilayah budaya di perkotaan, dan pergerakan dari pemilik rumah yg konservatif. Tujuan dari pergerakan mencerminkan diversitas keanggotaan ini. Tujuan tsb termasuk membuat pembangunan publik dan privat responsif pada kepentingan komunitas; Menghalangi melemahnya dan gentrifikasi dari lingkungan (neighborhood); dan mencapai “kontrol komunitas”. Gentrifikasi dan gentrifikasi perkotaan menunjukkan perubahan sosial-budaya di suatu daerah yang dihasilkan dari orang-orang kaya membeli properti perumahan dalam komunitas yang kurang makmur (Wikipedia). Sementara pergerakan awal yg berharap pada “neighborhood power” dan bahkan “neighborhood government” (Kotler, 1969) tidak pernah terealisasi, pergerakan tersebut mempengaruhi secara kuat berbagai kebijakan nasional dan lokal, termasuk regulasi dari peminjaman bank di daerah miskin, kontinuitas dari perencanaan neighborhood dan program partisipasi warga negara di banyak yuridiksi lokal di seluruh US, juga dukungan pemerintah dan filantropik (sumbangan perorangan/yayasan) untuk pengembangan komunitas.

Koalisi progresif kota. Selama 1970an dan 1980an beberapa USM berhasil dalam menghindari/mengelak dari organisasi partai politik biasa dan membawa pemilihan dari rangkaian pemerintahan progresif dalam kota berukuran sedang dan kota besar di seluruh US. Dibawah pemerintahan progresif kota2 ini mengejar perpajakan ‘downwardly-redistributif’ dan kebijakan ekspenditur (pembelanjaan), mempromosikan kontrol publik dari perkembangan, menentang dominasi koalisi lokal dan mengembangkan program2 inovatif dalam pelayanan perumahan dan perkotaan. Kota2 tsb juga mengejar strategi pengembangan ekonomi yg didesain terutama untuk menguntungkan penduduk yg sudah ada daripada pemilik kapital ekstra-lokal

Dua contoh yg menunjukkan kesuksesan dan batas dari kota2 progresif tersebut: Santa Monica, California, dan Burlington, Vermont.

Homeowner’s movements. Komposisi dari pergerakan pemilik rumah secara umum adalah pergerakan kelas menengah, tetapi itu menyediakan sumber (resource) grassroot untuk pergerakan pajak properti yg dipimpin oleh pemilik properti persewaan yg jauh lebih kaya. Usaha ini memuncak di California dengan adanya Proposition 13 tahun 1978, kebijakan pemotongan pajak yg telah ditiru di negara bagian lain. Rezim konservatif nasional dipimpin oleh Ronal Reagan berakar dari pergerakan pembayarpajak California. Setelah kesuksesan dari pemotongan pajaknya, pergerakan pemilik rumah (homeowner’s movement) mengalihkan fokusnya pada tujuan “pertumbuhan lambat”, dan akhirnya kolisi dgn kepentingan dari bekas kawannya.

 

  1. 4.      Perkembangan Teori Terbaru

 

Resource Mobilization Theory

 

Resource Mobilization Theory atau Teori Mobilisasi Sumberdaya berasal dari analisis Mancur Olson, yang sebagai premis-nya bahwa individu-indicidu hanya akan berpartisipasi dalam bentuk tindakan kolektif, termasuk gerakan sosial, bila lebih banyak keuntungan yang didapatkan daripada kerugiannya. Menurut “Resource Mobilization Theory”, pemimpin gerakan harus bertindak sebagai pengusaha yang dapat memikat orang lain untuk berinvestasi dalam gerakan