Sebuah Ide Tentang Negara Sekular

Secular Humanism

Secular Humanist

 

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, sekularisme ialah suatu pandangan dalam hidup atau dalam satu masalah yang berprinsip bahwa agama atau hal-hal yang bernuansa agama tidak boleh masuk ke dalam pemerintahan, atau pertimbangan-pertimbangan keagamaan harus dijauhkan darinya.

 

Dapat kita simpulkan bahwa sekularisme ialah memisahkan agama dari kehidupan individu atau sosial dalam artian agama tidak boleh ikut berperan dalam politik, pendidikan, kebudayaan maupun dalam hukum. Kehidupan sosial diatur oleh hukum positif yang berdasarkan kemanusiaan dan toleransi dari akal budi manusia. Tujuan dari pemikiran ini adalah untuk menghargai kaum minoritas. Karena kebijakan hidup sosial tidak terletak pada agama mayoritas tetapi pada alasan yang rasional.

 

Banyak yang  salah kaprah tentang ide sekularisme. Kebanyakan mereka berpikir bahwa sekularisme anti agama dan  malah membatasi ritual dan kewajiban keagamaan. Sebaliknya, sekularisme melindungi apapun kepercayaan anda. Anda bisa melakukan kewajiban keagamaan anda selama tidak merugikan kepentingan publik, dan ini berlaku untuk semua agama. Hal ini sangat baik agar diskriminasi berdasarkan agama dapat kita hindari.

 

Contoh diskriminasi yang diakibatkan oleh tidak adanya pemisahan agama dan negara adalah kolom agama di KTP dan dipersulitnya pernikahan beda agama. Apakah fungsi dicantumkannya agama di KTP? Bahkan hanya ada enam agama yang terdaftar di KTP. Bukankah itu tindakan diskriminatif kepada mereka yang tidak menganut enam agama yang terdaftar? Belum lagi dengan dicantumkannya kolom agama di KTP akan memungkinkannya tindakan diskriminatif berdasarkan agama yang dianut. Sangat mungkin ada perlakuan berbeda setelah orang lain mengetahui agama anda yang tercantum. Adanya kolom agama di KTP bagaikan mengenakan kaos berlabel agama anda, mengundang orang lain untuk mendiskriminasi, dan melanggar hak privasi anda untuk menyembunyikan status keagamaan anda. Selain itu tanpa adanya sekularisme, pernikahan beda agama dipersulit. Negara hanya menginginkan pernikahan dengan orang yang seagama.

 

Pertanyaan tentang negara sekuler kemudian berkembang. ‘Bagaimana Negara bisa menjaga moral rakyatnya tanpa agama? Dalam negara sekuler, negara membebaskan pilihan bermoral rakyatnya. Masyarakat boleh bermoral sesuai dengan ajaran agama yang dianut , humanisme, bahkan masyarakat boleh bermoral sesuai dengan pemikiran rasional tanpa ajaran agama sekalipun. Namun negara harus turun tangan pada saat tindakan masyarakat di dalam kerangka moral tertentu merugikan orang lain. Di sinilah fungsi negara diperlukan.

 

Manusia bisa bermoral terlepas dari ajaran kepercayaan tertentu karena otak kita secara alami memiliki kemampuan untuk bermoral. Neuron cermin (mirror neuron) di otak memungkinkan kita mampu merasakan apa yang orang lain rasakan, termasuk penderitaan yang mereka alami. Ini yang kita namakan dengan empati. Sirkuit altruisme di otak mendorong individu untuk melakukan tindakan-tindakan altruistik, tindakan yang secara umum dianggap baik dan menghindari tindakan2 kekerasan yang merugikan sesama dan merusak kehidupan sosial masyarakat. Altruisme dapat dibagi menjadi dua, yakni perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu. Ini membuktikan bahwa kita bisa bermoral tanpa batasan ideologi apapun.

 

Sudah seharusnya negara membiarkan masyarakat untuk beragama sesuai dengan pandangannya. Sampai kapan rakyat indonesia dianggap belum dewasa? Pro dan kontra masyarakat akan pandangan beragama sebaiknya dikembalikan sendiri kepada masing-masing rakyatnya. Biarkanlah negara membiarkan masyarakat bermoral secara rasional tanpa intimidasi ketakutan akan neraka dan iming-iming surga.