Perlawanan Melawan Kanker, Perlawanan Melawan Ketidakrasionalan dan Stigma

Cancer

Cancer

 

Pada bulan September 2011 saya datang ke kampus untuk menemui seorang teman. Kami akan melakukan pemotretan dengan tema “pasangan dan motor”. Namun, teman saya tidak kunjung datang. Tidak lama kemudian dia menghubungi saya dengan nada bicara panik,”Maaf Dif, mama gw sakit. Kankernya pecah dan sekarang di rumah sakit”.

 

Saya kemudian langsung beranjak ke rumah sakit yang cukup dekat dengan kampus untuk menemuinya. “Mal.. gimana keadaan mama?”, kata saya.

 

“Mama masih bisa senyum walaupun gw tau badannya sakit”, kata teman saya.

 

Lalu saya melihat seorang perempuan sedang dirawat oleh suster dan dokter. Dia cantik, walau menahan sakit saat suster sedang membalut lukanya. Dia tersenyum, seraya menyapa teman2 anaknya. Walau saya tahu benar di balik wajahnya yang tersenyum, pucat rautnya nampak. Entah karena sakit yang luar biasa, atau karena kehilangan banyak darah.

 

“Maaf ya Dif, gw udah bawa kameranya. Tapi mama gw sakit. Nanti setelah mama gw baikan gw foto ya””

 

Mal, kalau lo tetap moto gw saat mamalo lagi seperti ini, gw marah sama elo. Gw juga punya ibu dan akan melakukan hal yang sama seperti elo”.

 

Beberapa hari kemudian teman saya datang ke kost. Raut wajahnya bingung dan khawatir. Mamanya menolak pengobatan medis dan memilih pengobatan alternatif.

 

“Mama gak sembuh2. Udah berkali-kali coba pengobatan alternatif. Gw gak mau liat mama sakit terus. Gw tau pengobatan alternatif tidak akan membuat mama sembuh”, katanya.

 

Teman saya benar. Pengobatan alternatif tidak bisa mengobati kanker. Bahkan  pengobatan alternatif bisa berbahaya untuk penderita kanker. Yang lebih parah dari pengobatan alternatif adalah, penderita akan merasa sembuh dan menolak pengobatan medis. Saya mengerti bahwa pengobatan medis memang menyakitkan. Kemoterapi mebuat botak, sesak napas, kulit kusam, dan segala efek sampingnya.

 

Media seraya memberitahukan pengobatan medis dengan berita yang jelek. Malpraktek, obat yang tidak alami membuat buruk, bla bla bla… Tapi jarang sekali media memberitahukan keberhasilan pengobatan medis.  Sebaliknya, media terus menyiarkan keberhasilan pengobatan alternatif. Katanya pengobatan alternatif itu alami, sesuai dengan tubuh, dan sebagainya. Benarkah? Sudahkah ada pembuktian ilmiha berhasilnya pengobatan alternatif untuk penderita kanker? Saya tahu benar banyak penderita kanker yang meninggal akibat pengobatan alternatif karena terlambat ditangani medis. Dan jika ada penderita kanker yang katanya sembuh dengan pengibatan alternatif, biasanya kerena mereka juga melakukan pengobatan medis. Jika pasien meninggal atau memburuk dengan pengobatan medis, mereka akan menuntut pengobatan medis. Namun jika pasien meninggal karena pengobatan alternatif, mereka tidak menuntut pengobatan alternatif. Mereka akan pasrah dan berserah pada takdir.

 

Saya mengerti ketakutan Ibu dari teman saya terhadap pengobatan medis. Saya hanya bisa menyarankan terus menjalankan pengobatan medis. Jika perlu berkonsultasi sengan psikologi keluarga untuk penanganan emosi bagi keluarga dan penderita kanker. Penderita penyakit menahun membutuhkan konsultasi psikologi dan begitu pula keluarga yang merawatnya.

 

“Begitu mama gw dapet obat gw umpetin obatnya. Gw marahin terapi alternatif yang nanganin nyokap gw. Gw pengen mama gw sehat beneran. Gak ditipu sama pengobatan alternatif. Gw lebih baik dibenci mama, tapi mama sehat”.

 

Saya mendengar kata2 teman saya yang berani itu. Memang itu yang sebiknya dilakukan oleh seorang anak yang menggunakan akal sehatnya. Jika orang tua atau orang yang saya cintai menderita kanker, saya juga akan melakukan hal yang sama. Beberapa minggu kemudian, teman saya itu kembali datang ke kost saya. Mamanya sudah menjalani pengobatan medis.

 

Mamanya marah kepadanya karena memaksa pengobatan medis yang menyakitkan.

 

“Gw gak peduli! Yang penting mama gw sembuh!”

 

Sangat wajar penderita marah karena penyakitnya itu. Mereka yang mengikuti pengobatan alternatif sebelum pengobatan medis biasanya tidak akan percaya dengan pengobatan medis.

 

“Sabar aja dulu mal. Memang biasanya seperti itu. Nanti setelah membaik, dia juga akan baik lagi sama elo”.

 

Tidak hanya perjuangan melawan sakit dan kemoterapi yang dialami oleh penderita kanker. Kerabat yang menjenguk sering kali mengatakan bahwa penyakit yang diterima adalah akibat perbuatan dosa yang kita lakukan.

 

“Ini teguran dari Tuhan, kamu harus intropeksi diri”

 

“Mungkin setelah ini kamu harus memakai jilbab, Tuhan sedang mengingatkan kamu”

 

“Coba ingat dosa apa yang kamu lakukan hingga kamu terkena penyakit ini”

 

Mungkin kata2 di sering kita ucapkan ketika berkunjung ke rumah sakit menengok kerabat yang sakit. Bukannya mendoakan atau menguatkan, kita malah menganggap penyakit yang didapatkan penderita adalah akibat dari perbuatannya. Kita menganggap mereka berdosa dan kotor. Lalu, ketika memakai jilbab, apakah kankernya sembuh? Apakah jika melakukan tobat maka kankernya hilang lenyap? Dokter, pengobatan medis, dan kerabat yang mendukung yang membuat penderita kanker ini sembuh, bukan stigma kalian.

 

Jika kita sadari, stigma buruk inilah yang semakin memberatkan keadaan psikologis penderita. Siapapun bisa terkena penyakit, walaupun dia orang suci sekalipun. Bagaimana perasaan pasien dan keluarga jika kita menganggap bahwa penyakit yang dideritanya adalah balasan atas dosa? Sudah berat penderitaan mereka, haruskah kita tambahkan lagi dengan stigma?

 

 

 

=======================================================================

 

Tulisan ini terinspirasi dari kisah perjuangan melawan kanker Ibu dari sahabat saya. Saya dedikasikan juga kepada kerabat dan penderita kanker yang terus berjuang melawan ganasnya penyakit ini. Kepada kalian yang menjadi botak karena kemoterapi, di mata saya kalian nampak seperti ROCK STAR. YOU ROCK!! KEEP ROCKIN’ !!