Sains untuk Indonesia yang Lebih Baik : Cerita di Balik terbentuknya Menrva Foundation for Science and Reason

Logo Menrva

Menrva foundation for science and reason

Saya terlahir pada tanggal 22 September 1987 di Yogyakarta atas bantuan seorang ahli medis dan pengobatan yang yang dihasilkan dari pemikiran kritis dan ilmu pengetahuan.  Saya dididik oleh Ayah dan Bunda sembari menikmati elektron yang menjadi listrik, Ilmu tentang fotolistrik, komputer dan internet yang memberikan saya pengetahuan mengenai peradaban yang berbeda, dan dilindungi oleh  ilmu tentang logam dan pembakaran yang menghasilkan perpaduan semen dan besi yang menjadi beton untuk tempat kami bernaung. Tanpa ilmu kedokteran hidup saya sudah berakhir saat saya berumur satu tahun karena campak, dan tanpa antibiotik hidup saya berakhir setahun lalu karena infeksi ginjal. Sains tidak hanya memudahkan dan membuat hidup saya nyaman, tetapi juga telah menyelamatkan hidup saya. Tidak hanya untuk saya tetapi juga untuk anda.

 

 Apa itu sains?

Sains tidak seperti yang dipikirkan banyak orang, bukanlah sihir modern, di mana segala sesuatu yang memudahkan dan dapat kita nikmati, dapat terjadi tiba-tiba. Tetapi sains adalah upaya dari kita untuk mencoba mengerti bagaimana alam semesta bekerja, lalu  mencoba bernalar dengan membuat model dunia di sekitar kita ke dalam pemikiran kita. Hal ini menghasilkan teknologi, pengobatan medis, dan segala aplikasi yang kita nikmati sekarang. Sains adalah metodologi, bukan hasil. Sains bukanlah teori-teori yang dihasilkannya, melainkan metode yang digunakan untuk mendapatkannya.

 

Apa yang sains berikan bagi umat manusia?

Reene Descartes mengatakan “Dubitande et repertatem pervernimus” yang artinya, dengan mempertanyakan maka kita akan sampai pada kebenaran. Sikap mempertanyakan atau yang kita kenal dengan istilah skeptisisme adalah dasar dari pemikiran kritis yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Mereka yang berpikir skeptis tidak langsung memandang gejala alam sebagai fenomena mistik, melainkan mencari penjelasan yang menyeluruh dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada ratusan tahun yang lalu ada banyak perempuan-perempuan yang dituduh penyihir dibakar dan dibantai, digantung, bahkan disiksa perlahan-lahan sampai mati, di Eropa. Hal itu terjadi ketika adanya rumor tentang perempuan yang mempunyai kekuatan magis dan sains belum dapat menjelaskan mengenai fenomena tersebut. Perempuan-perempuan tersebut dianggap menjadi penyebab malapetaka yang melanda masyarakat dan layak dihukum dengan keji.

Di Indonesia, kita tidak perlu melihat ratusan tahun ke belakang untuk menemui fenomena yang sama. Pernahkan anda mendengar tentang rumor dukun santet? Sampai saat ini di Indonesia  banyak orang yang dibakar atau bahkan disiksa sampai mati, hanya karena dituduh sebagai dukun.  Masyarakat langsung percaya begitu saja tanpa adanya pemikiran rasional kritis untuk mempertanyakan kebenaran dari rumor tersebut.

Sampai sekarang tidak aneh jika kita melihat masyarakat langsung menghubungkan  segala sesuatu dengan fenomena mistis sebagai penyebab permasalahan yang ada. Ketika terjadi gagal panen atau wabah penyakit, misalnya, mereka langsung menuduh seseorang yang mempunyai kekuatan supernatural sebagai penyebab masalah itu. Atau bahkan mereka memberikan tumbal nyawa sebagai solusinya. Kita jelas mengetahui bahwa ini tidak benar. Tidak hanya permasalahan tersebut tidak terselesaikan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Padahal jika mereka mencari akar permasalahan dari setiap fenomena dengan cara yang benar, bukan menghubungkan segala sesuatunya dengan hal mistis, permasalahan tersebut akan dapat mereka selesaikan.

Sementara mistisisme membakar nyawa dan peradaban manusia, sains memadamkannya dan memberikan solusi dari permasalahan yang ada dalam peradaban kita.

Perkembangan sains di Indonesia

Ilmu pengetahuan dan informasi telah berkembang pesat dan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun di negara kita masih banyak permasalahan dalam masyarakat yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk berpikir secara kritis. Sebagai contoh, banyak pengobatan alternatif di Indonesia yang tidak terbukti secara medis/klinis, tidak melalui enam langkah metodologi sains yang telah dijelaskan di atas. Pengobatan tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan dapat memperburuk kondisi pasien. Pasien yang mengandalkan pengobatan alternatif banyak yang akan mengabaikan pengobatan yang disediakan oleh ilmu kedokteran. Akibatnya, banyak penyakit yang seharusnya dapat disembuhkan, malah menyebabkan pasien semakin parah atau bahkan meninggal dunia. Sebagai contoh, pada tahun 2009 di Australia, Gloria Thomas, bayi berusia sembilan bulan yang menderita eczema, meninggal dunia akibat pengabaikan orang tuanya terhadap pengobatan medis. Mereka mengandalkan homeopathy yang merupakan salah satu pengobatan alternatif, sehingga penyakit eczema yang seharusnya dapat disembuhkan dengan mudah, malah menyebabkan kematian. Hal yang sama juga berlaku pada pengobatan alternatif lainnya, termasuk di Indonesia. Pengobatan alternatif hanyalah satu contoh dari kurangnya pemikiran kritis pada masyarakat Indonesia.

Bukan berarti masyarakat di Indonesia buta tentang sains. Mata pelajaran yang didapat di sekolah dasar dan menengah mengajarkan tentang sains. Namun, pengajaran tersebut terkesan tidak terhubung antar bidang keilmuan satu sama lain dan tidak aplikatif dalam dunia sehari-hari. Ketika murid-murid di sekolah mempelajari fisika, kimia, dan biologi di sekolah, banyak dari mereka hanya dapat memandang berbagai pelajaran tersebut sebagai sarana untuk mendapatkan nilai dan ijazah, bukan untuk mendapatkan pengetahuan yang menarik dan berguna dalam menyelesaikan masalah.

Seharusnya sejak dini murid diajarkan esensi dari sains, pentingnya mempelajari sains, dan bagaimana cara melakukan sains. Bila dari awal murid dilatih untuk bersikap kritis, mempertanyakan, menyusun hipotesis, dan melakukan melakukan eksperimen sederhana untuk mengujinya, maka mereka akan tidak hanya akan lebih termotivasi dalam mempelajari sains, tetapi juga semakin terbuka dan kritis terhadap pemikiran baru. Inilah yang akan membuat ilmu pengetahuan semakin berkembang di Indonesia.

Kendala berikutnya adalah adanya jarak yang besar antara ilmuwan dengan masyarakat awam. Jurnal-jurnal ilmiah yang memuat berbagai penelitian sains mutakhir sulit dimengerti oleh masyarakat. Karena itulah ada banyak fenomena yang belum dipahami oleh masyarakat, walaupun fenomena tersebut sudah terpecahkan dan diketahui di kalangan ilmuwan. Untuk menjembatani keduanya, maka diperlukanlah media yang menarik dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, yang kita sebut dengan ”sains populer”.

Sains populer membahasakan literatur ilmiah dengan menggunakan berbagai media seperti gambar, video, dan tulisan. Ada banyak media sains populer yang tersedia saat ini seperti film dokumenter sains, video pendek, komik sains, dan buku-buku sains populer. Bahkan beberapa dapat diakses dengan gratis dari internet. Namun sayangnya, hampir semuanya bukan dalam bahasa indonesia. Kenyataan bahwa banyak masyarakat Indonesia tidak mengerti bahasa lain selain bahasa indonesia, membuat  media sains popular tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia.

 

Pergerakan sains

Karena kegelisahan atas masalah ini, saya dan teman-teman membuat suatu gerakan untuk mempopulerkan sains dan melatih masyarakat untuk berpikir kritis. Segala gerakan dan aktivitas ini kami tampung dalam sebuah yayasan yang kami dirikan bernama Yayasan Menrva. Yayasan ini didirikan pada tahun 2011 dengan tujuan untuk memopulerkan sains di Indonesia, serta membentuk masyarakat Indonesia yang lebih rasional dan kritis.Yayasan Menrva memiliki beberapa program kerja seperti: penerjemahan artikel dan video sains, klub diskusi sains, dan pembantahan klenik.

Ada banyak fenomena-fenomena yang dianggap magis oleh masyarakat Indonesia, namun sebenarnya dapat dijelaskan oleh sains. Dari perdukunan, paranormal, sampai fenomena yang sering ditemui seperti kesurupan, ini semua penting untuk dibongkar dan ditelaah secara menyeluruh. Ketika masyarakat bersikap kritis, maka mereka tidak akan mudah dimaanfatkan oleh orang-orang yang mengambil keuntungan dari fenomena-fenomena tersebut.

Diskusi klub sains yang kami adakan setiap minggu menjadi ajang pertemuan antara ilmuwan, akademisi, dan masyarakat awam. Cukup menarik ketika saya melihat seorang ibu rumah tangga begitu aktifnya menanyakan tentang cara kerja otak pada seorang ilmuwan neurosains, dan seorang pelajar SMA berdiskusi tentang biologi kepada seorang ilmuwan. Namun tidak hanya itu, diskusi terbuka ini juga menjadi ajang pertemuan dan diskusi antara berbagai orang dari bidang keilmuan berbeda.  Dalam diskusi ini, pernah seorang psikolog menanyakan tentang astrofisika kepada seorang fisikawan dan seorang fisikawan menanyakan tentang ilmu psikologi kepada psikolog.

Dari antusiasme mereka pada saat berdiskusi mengenai sains, saya melihat potensi besar dari masa depan Indonesia. Indonesia yang melek sains, bersikap kritis terhadap berbagai fenomena, namun di saat yang sama juga bersikap rendah hati dalam menanggapi kritik. Karena itulah saya optimis bahwa kita dapat mengembangkan sains untuk Indonesia yang lebih baik.

Logo Menrva

Menrva foundation for science and reason

Menrva Foundation for Science and Reason

Website : menrvaindonesia.org

Podcast : menrvapodcast.com