Evolusi Gender dari Leluhur Hermafrodit Dipetakan

ScienceDaily (Nov. 27, 2008) — Riset dari University of Pittsburgh diterbitkan pada edisi 20 November jurnal Heredity dapat pada akhirnya memberi bukti tahap pertama evolusi seks terpisah, sebuah teori yang mengatakan kalau jantan dan betina berkembang dari leluhur hermafrodit. Tahap awal ini tidak sepenuhnya dimengerti karena mayoritas spesies hewan berkembang menjadi spesies seksual terlalu lama di masa lalu sehingga ilmuan kesulitan mengamati transisinya.
Walaudemikian, Tia-Lynn Ashman, seorang ekolog evolusioner tanaman di Department of Biological Sciences di Pitt’s School of Arts and Sciences, mendokumentasikan evolusi pemisahan seks awal dalam spesies strawberry liar yang masuh bertransisi dari hermafroditisme. Penemuan ini juga berlaku pada hewan (lewat teori penyatuan) dan memberikan bukti pertama yang mendukung teori kalau kemunculan seks berakar dari mutasi genetic pada gen hermafrodit yang menjadi kromosom seks jantan dan betina. Dengan kemampuan menumbuhkan namun meredam peluruhan hermafrodit, seks berkembang.
”Ini adalah tes penting pada teori dari tahap awal evolusi kromosom seks dan bagian dari proses memahami kita sendiri”, kata Ashman. Ia menambahkan kalau studi ini juga menunjukkan kalau tanaman dapat memberi pandangan pada evolusi hewan dan manusia.”Kita memiliki kesempatan untuk mengamati evolusi kromosom seks pada tanaman karena perkembangannya lebih baru. Kita tidak dapat melihatnya pada hewan karena kromosom seks berkembang jauh di masa lalu. Tapi, kita bisa mempelajari sebuah spesies yang berada pada tahap awal sekarang dan menerapkannya pada hewan berdasarkan pada teori penyatuan yang sering bertindihan antara biologi tanaman dan hewan.”
Ashman melaporkan dalam jurnal Science tahun 2004 kalau hewan dan tanaman berbunga menikmati strategi reproduktif yang sama untuk meningkatkan keberhasilan reproduktif dan keragaman genetik. Metode ini termasuk sejumlah sel sperma pada jantan, kompetisi pasangan dan daya tarik lewat pertarungan dan ornamentasi alami, penghindaran incest, dan inklinasi jantan untuk mendapatkan sebanyak mungkin keturunan.
Untuk studi terbaru kali ini, Ashman dan rekan riset pasca doctoral dari Pitt, Rachel Spigler bekerja dengan sebuah spesies strawberry liar dimana evolusi pemisahan seks belum sempurna, sehingga hermafrodit ada diantara tanaman jantan dan betina. Kromosom seks pada tanaman ini memiliki dua loci — atau posisi gen pada sebuah kromosom — satu yang mengendalikan kesuburan dan kemandulan pada jantan dan satunya lagi pada betina. Keturunan yang mewarisi kedua versi kesuburan adalah hermafrodit yang mampu berkembang biak sendiri. Tanaman yang memiliki satu versi kesuburan dan satu kemandulan akan menjadi jantan atau betina. Mereka yang kedua versinya kemandulan sepenuhnya menjadi mandul, tidak dapat bereproduksi dan kemudian mati.
Tanaman berseks tunggal tidak hanya tumbuh satu sama lain namun juga dengan tanaman hermafrodit dan menurunkan mutasi, yang dapat berakibat pada keturunan berseks tuggal. (Tanaman mandul juga dapat dihasilkan, namun tanaman dengan gen yang membantu produksi keturunan subur akan lebih berhasil.) Saat depresi incest pada hermafrodit juga dipertimbangkan, kata Ashman, sebuah penurunan bertahap pada jumlah tanaman hermafrodit akan dihasilkan. Akibatnya, lebih sedikit kromosom dengan versi keduanya subur pada loci akan diturunkan dan frekuensi individu berseks tunggal akan meningkat.