Sekolah atau Sarang Pengompas??

Percakapan ini dimulai ketika saya tertarik dengan status message teman saya : 700rb untuk buku pelajaran SMA??

q_mavy: buku apaan?
ini_gita: buku pelajaran sekolah adek gw
ini_gita: 2 sma
q_mavy: serius lo?
q_mavy: moto kopi ajah
q_mavy: gak boleh ya?
q_mavy: atau PDF nya aja
ini_gita: jadi adek gw dikasih list buku, tanpa nama penerbit atau pun judul, cuman harga doang. wajib pula
ini_gita: ya mirip sma berita utam akompas hari inilah
q_mavy: loh ko wajib?
q_mavy: kan kita punya hak untuk menolak
ini_gita: adek gw, sialnya, ga begitu peduli
q_mavy: wakakakakak..
q_mavy: lo kalo seumur giyu peduli gak?
ini_gita: jadilah gw dan nyokap gw marah2 sendiri
q_mavy: emang adek lo langsung bayar?
ini_gita: i dunno
ini_gita: belon dibayar mpe sekarang
q_mavy: SMA berapa?biar gw masukin di blog aja sekalian
ini_gita: si papah belum ngasih jatah
q_mavy: kalo ada fotonya lebih bagus
ini_gita: SMAN 3 Jakarta
ini_gita: hahaha
q_mavy: ada foto sekolahnya?
ini_gita: soalnya dulu waktu sma gw ga ada yang namanya gituan
q_mavy: itu wajib? serius?
ini_gita: ga beli ga masalah
q_mavy: ada percakapan antara adeklo dan si guru itu ga?
ini_gita: beli ga pa2
ini_gita: pake warisan ok
q_mavy: gw seriusin nih
q_mavy: biar malu sekalian SMA 3 itu
ini_gita: ya kagak lah, uda dibilang adek gw itu ga pedulian dan rada cuek
ini_gita:
q_mavy: yaudah… percakapan ym kita gw masukin di blog ya..
ini_gita: hahaha

Yang patut dicermati, list buku tersebut tidak tercantum pengarang buku dan penerbit.. yang ada hanya harganya saja… Mereka mewajibkan si murid untuk membeli buku dari mereka. Padahal, akan lebih baik jika mereka diperkenankan meminjamnya kepada senior atau membeli buku bekas yang lebih murah. Apakah ini sebuah bentuk premanisasi pendidikan yang secara legal mengompas anak didiknya sendiri?

Atau anda dapat membaca kompas on line di bawah ini…

Jakarta, kompas – Hari pertama sekolah, Senin (14/7), siswa dan orangtua dikejutkan dengan biaya pembelian buku pelajaran yang sangat memberatkan. Biaya yang harus dikeluarkan di beberapa sekolah mencapai Rp 1 juta per semester.

Program buku digital yang dicanangkan pemerintah dengan maksud menekan harga buku kenyataannya belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Selain sulit diunduh dari internet, hampir tidak ada sekolah yang menggunakan buku digital itu. Bahkan, banyak kepala sekolah dan guru yang belum mengetahui adanya buku digital itu.

Di sebuah sekolah menengah di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, misalnya, pada hari pertama masuk sekolah, kertas fotokopi berisi judul buku, penerbit, dan harga buku yang akan dipakai siswa kelas III SMA jurusan IPA tersebut dibagikan kepada siswa.

”Ada 14 buku yang mesti dibeli. Harga semua buku yang dijual di sekolah hampir Rp 1 juta. Siswa yang mau beli pesan ke bagian Tata Usaha,” kata seorang siswa.

Buku-buku teks yang dipakai di sekolah tersebut merupakan keluaran dari penerbit buku ternama yang umum dipakai di sekolah. Tidak ada satu buku pun yang direkomendasikan dari buku digital yang disediakan pemerintah di situs web Depdiknas.

Ny Ellis, warga Ciledug, Kota Tangerang, harus menyediakan sekitar Rp 600.000 pada semester ini untuk biaya buku pelajaran putranya, siswa kelas II sebuah SMA negeri di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Di Bandung, siswa kelas II SMA negeri disodori daftar buku berikut penerbit dan harga masing-masing buku yang jumlah keseluruhannya mencapai Rp 418.000. ”Tidak bisa dicicil karena tahun ajaran baru sudah dimulai,” ujar orangtua murid.

Di Bekasi, selain dikenai uang masuk sebesar Rp 1,5 juta dan sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) Rp 150.000 per bulan, siswa baru juga harus segera membeli buku yang harganya di atas Rp 420.000 untuk satu semester.

Di Palembang, Sumatera Selatan, orangtua murid juga mengeluh karena selain harus membayar Rp 4 juta untuk uang gedung, sumbangan pengembangan pendidikan, uang seragam dan orientasi sekolah, anaknya harus membeli buku pelajaran yang harganya mencapai lebih dari Rp 350.000 per semester.

Jadi… untuk apa ada buku digital jika memang tidak menguntungkan sekolah ( Satire )  ??