Pendidikan yang Diseragamkan

Desire for approval and recognition is a healthy motive but the desire to be acknowledged as better, stronger or more intelligent than a fellow being or fellow scholar easily leads to an excessively egoistic psychological adjustment, which may become injurious for the individual and for the community.

Albert Einstein (1879 – 1955)

“Education made us what we are.”

Claude Adrien Helvétius (1715 – 1771)

Dewasa ini pendidikan bukanlah lagi sebuah kebutuhan dasar tapi menjadi komoditas untuk menaikkan gengsi. Tanpa kita sendiri kita menggunakan sekolah formal untuk mendapatkan pengakuan bahwa kita lebih cerdas dan lebih baik dari yang lain tanpa memikirkan lebih dalam apa yang kita dapatkan dari pendidikan formal tersebut. Pendidikan formal saat ini seakan melupakan tujuan awalnya yang kemudian menyeragamkan kurikulumnya tanpa memandang perbedaan yang sangat kaya di Indonesia .

Keseragaman kurikulum, seraya melupakan kearifan lokal yang merupakn citra dari Bhineka Tunggal Ika. Mata pelajaran dan penilaiann pun tidak luput distandarkan. Padahal, di setiap daerah mempunyai keunggulan masing-masing. Sekolah formal tidak lagi mempunyai prinsip untuk mempersiapkan anak didiknya untuk kemandirian dan memajukan kualitas hidup dengan memanfaatkan kekayaan budaya daerahnya ataupun nasional. Sekolah formal kini menjadi komuditas gaya nomor satu. Bayangkan kita tidak tahu untuk apa kita sekolah, untuk apa kita belajar biologi, ekonomi. Kita hanya tau sekolah dapat membuat kita sukses. Sukses seperti apa , bagaimana, Dan untuk apa kita sukses bahkan kita tidak sempat memikirkannya.

Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa kayanya. Kesenjangan dan perbedaan budaya terkadang membuat kita berstigma negatif dengan kebudayaan lain. Kita menganggap udik terhadap daerah yang belum menikmati listrik, menganggap primitif komunitas adat di rimba, menganggap miskin petani, bahkan kita menganggap kafir dan terbelakangnya manusia rimba yang menolak teknologi dan bertuhan beda dengan kita. Kekayaan budaya yang indah itu merupakan sebuah kearifan lokal yang mempunyai potensi masing masing dalam memajukan kualitas hidupnya. Akan sangan aneh jika kita memaksakan pelajaran komputer menjadi kurikulum sekolah di sebuah suku adat yang terkadang muridnya harus meninggalkan sekolah ketika musim berburu. Dan lagi-lagi kita memberikan stereotype dan stigma manusia liar yang tidak tahu aturan kepada mereka ketika tidak menuruti kurukilum sekolah formal. Kita bahkan mengaggap karakteristik kebudayaan tertentu sebagai sesuatu yang salah dan harus dibenarkan daripada sekedar mengaggap mereka memiliki keunikan budaya yang berbeda. Hal-hal seperti itulah yang membuat sekolah sebagai langkah untuk menaikan kualitas hidup dan pengetahuan kini diseragamkan.

Daerah tertentu mempunyai potensi sendiri dalam mengembangkannya. Tidak hanya dari segi budaya saja yang beragam. Pendidikan seharusnya menjadi sebuah pembekalan masyarakat dalam memperkaya budayanya dan membekali masyarakat untuk dapat mengelola dan menjaga kekayaan alamnya. Pendidika juga membekali masyarakat untuk dapat memahami budaya lain, membuka mata akan wawasan yang lain dan dapat dengan bangga mempertahankan kearifan lokal yang merupakan hasil budaya yang membentuk karakter kedaerahan. Pendidikan juga seharusnya dapat mengajarkan hak-hak meraka sebagai warga Negara, bukan hanya kewajiban mereka sebagai warga Negara.

Akan sangat baik jika pendidikan kini disesuaikan dengan budaya dan kekayaan lokal. Sehingga, pendidikan bukan lagi sebuah penyeragaman nilai tapi dapat memperkaya nilai. Bukan lagi sebagai penjaga prestige tetapi menjadi sebuah penjaga moral. Dengan kekayaan dan budaya yang begitu kaya, pendidikan adalah garda terdepan dalam keselarasan evolusi budaya agar tidak terpaksakan oleh stigma, pendidikan juga sebagai gerbang awal yang memperkenalkan kekayaan budaya yang berbeda yang dapat saling berbagi satu sama lain, juga mempersiapkan masyarakat untuk dapat bersaing sehat dalam segala bidang dengan memanfaatkan potensi yang sesuai tanpa lupa untuk menjaga potensi tersebut.