Kembang Kembang Genjer

Kamu ngomonga apa ? Aku masih hidup. Aku belum mau mati sebelum melihat ada organisasi wanita yang seperti kita punya dulu”

Umi Sardjono, Mantan Ketua Umum Gerwani

Bagi saya daripada menyerah, lebih baik saya pulang tinggal nama. Mau mati dipenjara, biar saja.”

Dalima, Sekretaris Front Nasional

Ribuan perempuan tidak bersalah menderit dan terampas sebagian hidupnya setelah peristiwa 1965 yang dikenal dengan kudeta 1 Oktober 1965. Buku ini menceritakan kisah beberapa perempuan yang menjadi korban yang bukan saja tentang pembantaian yang melebihi akal sehat manusia , khususnya penghinaan seksual, perkosaan, penyiksaan seksual, tapi juga rasa bersalah. Berulang kali mereka mengatakan tidak bersalah, tentu saja mereka tidak bersalah sampai harus begitu menderita tanpa pernah dibawa ke pengadilan.

Bisa jadi mereka hanya suka menyanyikan lagu Genjer-genjer, seorang guru TK, anggota organisasi wanita, anggota serikat petani, atau serikat buruh. Atau mereka benar-benar anggota Gerwani. Lalu mengapa? Mereka hanya mengabdi untuk indonesai yang lebih baik.

Setelah tanggal 1 Oktober 1965 tersebut, muncul pelarangan surat kabar lain selain Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Kesempatan ini dipakai untuk memunculkan opini negatif yang menyudutkan PKI dan ormas pendukungnya. Mereka menggunakan moralitas sebagai senjata dengan mengabarkan adanya “Pesta Harum Bunga” yang berupa tari-tarian mesum anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat disertai iringan tarian Genjer-Genjer. Mereka juga menyebarkan bahwa jendral-jendral tersebut disilet kemaluannya sebelum akhirnya dibunuh.

Ternyata penyiletan kemaluan itu hanyalah fitnah belaka. Ben Anderson menemukan pada berkas persidangan Mahmilub visum et repertum para jendral itu. Memang ada bekas luka memar tetapi tidak ada pemotongan kemaluan.Penggambaran perempuan secara amoral tersebut menyulut amarah rakyat dan mengorbankan ribuan wanita tidak bersalah termasuk organisasi perempuan terbesar di Indonesia saat itu.

Buku ini berisi wawancara 13 perempuan yang diantaranya adalah aktivis Gerwani, beberapa karena salah tangkap. Perempuan korban peristiwa 1965 itu telah berusia 70-80 tahun. Selama tiga dasawarsa rezim telah menghancurkan gerakan perempuan militan, bahkan menyiksa para aktivis perempuan selama bertahun-tahun dan memberikan stigma negative kepada mereka dan keluarganya. Trauma ini perlu dicatat, sehingga Indonesia tidak lagi kehilangan perempuan-perempuan terbaiknya dalam tragedi serupa.