Perbedaan yang Diseragamkan

03-ps10-2we-re-all-different-posters.jpg

Ayah….. Kini aku banyak merasakan banyak praktikum di lapangan. Praktikum yang teorinya banyak kita diskusikan. Teori yang terkadang kita carikan solsianya. Teori yang pemecahannya sulit untuk dilaksanakan. Kau benar kita tidak kehilangan orang pintar. Kita tidak kekurangan orang yang dapat menyelesiakan masalah. Tapi memang masalah ini tidak ada yang mau diselesaikan. Entah kemana kecerdasan kini seharusnya bertindak. Pemikiran rasional dan kalkulasi berdasarkan data yang menjadi senjata. Mereka tidur terlalu lama.

Ayah.. entah kenapa kecerdasan ini terkotak begitu saja. Mereka tidak mau lagi ada antithesis, tesis selalu disintesiskan dan longkap 1 tahap yang penting untuk perbaikannya. Perbedaan seharusnya harus ada. Sejak kapan berbeda itu salah kecuali dia tidak berdasarkan analisis? Matikah budaya ilmiah kita?

Ayah… entah keapa budaya kita tidak lagi menerima sesuatu yang berbeda tanpa ada analisis yang memikirkan adanya perbedaan ? Bukan kita harus menerima perbedaan itu begitu saja menjadi budaya kita, tapi aneh jika kita menjadi tidak toleran akan perbedaan semakin dianggap tidak ada, karena terlalu dituntut untuk diseragamkan. Kemana pertukaran-pertukaran ide yang menajamkan pemikiran? Kita masih ada karena kita adalah makhluk yang yang terus lulus seleksi dari perbedaan bukan? Kita semakin kuat karena ada perbedaan bukan? Begtu jugalah pemikiran kita seharusnya.

Ayah… bagaimana kita bisa lagi memperkaya pemikiran jika pemikiran ini hanyalah seragam? Tidak ada yang perlu berubah kah? Tidak ada yang perlu berkembangkah? Bagaimana pemikiran-pemikiran ini harus seragam jika kita otak kita terdiri dari mekanan-makanan yang berbeda. Jika waktu yang pernah dijalani berbeda jamannya, jika tempat yang dilalui hanya bersimpangan hanya terkadang?

Ayah… apakah bersalah menjadi seorang ateis, transgender, kapitalis, anarkis, komunis atau apapun lainnya? Heruskah kita menolak begitu saja tanpa sebabnya? Ataukah kita terlalu takut dikalahkan pemikiannya? Sebuah pemikiran yang salah yang menganggap perbedaan akan membunuh. Bukankah pemikiran yang tidak pernah berkembanglah yang ada dibalik hampir semua pembantaian masal? Hitler, Tenno, bahkan radikalis yang selalu kita tokohkan sebagai penjahat perang hampir semua pemikirannya irasional dan tidak pernah menerima masukan.

Ayah.. jika aku dapat memilih, aku jauh menerima menjadi manusia yang berbeda , bukan menjadi seorang manusia yang telampau khawatir dengan pebedaan….

Ayah… aku kangen kopi buatanmu… kecup salam dariku…