Mengapa Aku Tidak Pernah Melihatmu

apparition_father_daughter_11.jpg

Aku tidak pernah terbayang pernah marah dan kesal padamu. Kita saat itu jarang sekali bercakap bahkan bertegur sapa. entah karena kesibukanku atau kesibukanmu. Ingin sekali aku melihatmu di setiap pertandinganku dan ingin sekali aku mempersembahkan kemenanganku kepadamu yang selalu melihatku bertanding, mengontrol perkembangan latihanku. Tapi tidak, kau tidak pernah ada di sana. Bahkan kau mungkin tidak tau kapan aku bertanding.

Pemberontakanku padamu semakin berlanjut. Ditambah tekanan dari duniaku yang selalu menuntut waktu, kedisiplinan, kedewasaan di umurku yang baru saja bernjak dewasa. LIHAT AKU, SAPA AKU, RANGKUL AKU, BELAILAH RAMBUTKU SEPERTI AYAH LAIN MEMBELAI RAMBUT PUTERINYA. Aku ingin seorang ayah yang memapahku ketika rapuh.

Duniaku menuntut kedewasaan dan pencamuran emosi secara beruntutan. Dan aku semakin terjebak, dalam, dan terlalu nyaman dalam kesalahan di usia yang terlalu muda jika kuingat sekarang. Tidak ada seorangpun yang mengerti, tidak juga kau, seorang yang kucintai.

Suatu hari aku melihatmu di sisi yang berbeda. Persisnya ketika pelatihku memperlihatkan semua video kemenangan dan pertandingan klubku. Di video iu aku menyaksikan orangtua temanku dating, menyoraki anak-anak mereka bertanding dan memeluk anaknya ketika mendapat kemenangan. AKU IRI DENGAN MEREKA. Setelah menonton habis video itu, coach berkata, “ Difa, sampaikan terimakasihku pada ayahmu”, lalu kujawab “ Untuk apa?”, “untuk semua video pertandingan dan beberapa video latihan yang dia rekam, dia merekamnya dengan sangat detail di setap pertandigankita.”

Sekarang aku tahu mengapa aku tidak pernah melihatmu di setiap pertandinganku, di setiap video pertandingan di mana keluarga teman-temanku terlihat di sana. karena kaulah yang memegang handycam nya. Dan kau harus buru-buru kembali ke kantor sehingga aku tidak pernah melihatmu.

Sajak saat itu aku mulai merasakan seorang ayah yang menopangku. Sapertinya aku tahu mengapa tidak pernah melihatmu. Karena kau menopangku di tulang belakangku, sebagai tempat bersandar. Dan kau memelukku dengan keamanan, kehangatan, yang kau tidak sempat perlihatkan saat itu. Bahkan kata-kata “ayah mencintaimu” tidak pernah kudengar walau ternyata kau mengucapkannya( kata mama) setiap malam karena aku terlalu lelah tertidur.

AYAH, AKU JUGA MENCINTAIMU, TERNYATA AKU YANG TIDAK SEMPAT MENGUCAPKAN ITU…, SELAMAT TIDUR….