Melihat Ke Depan dan Berpikir Ke Dalam

frog-thinking.jpg

Saat kita menempuh sebuah perjalanan hidup, kita harus mempunyai tujuan tentunya. Namun sebelumnya, sudahkan kita berpikir ke dalam dan mempertanyakan tujuan, harapan dan apa yang ingin kita capai dalam hidup? Benarkah hal tersebut menjadi tujuan kita?

Berpikir tentang visi, tujuan, harapan saya analogikan di sini sebagai melihat ke depan. Saat kita melihat ke depan, kita dapat melihat arah dan tujuan kita walaupun terkadang samar ataupun saat kita melihat lebih jelas lagi ternyata jalan yang kita tempuh salah. Dengan melihat ke depan, kita dapat bergeak, mulai melangkah dan menentukan langkah.

Mempertanyakan apa yang menjadi tujuan kita, kemampuan kita, dan sebagainya yang membutuhkan pemikiran filosofis, kalkulatif atau terkadang perasaan, dapat saya analogikan sebagai berpikir ke dalam. Dengan berpikir ke dalam, terkadang memang menggoyahkan tujuan dan memberikan kebimbangan. Namun dalam kebimbanganlah kita menentukan pilihan dan semakin yakin dengan arah yang di tempuh.

Saya pernah bercita-cita menjadi seorang atlet renag ketika berumur awal belasan. Dengan dunia renang yang saya tempuh, saya yakin sekali dengan kemampuan saya dan masa depan saya menjadi seorang atlet renang. Namun, dengan bertambahnya usia, saya semakin mempertanyakan pada diri saya “ apakah saya benar-benar ingin menjadi seorang atlet renang?”. Setelah lama berpikir ke dalam, maka keputusan yang saya ambil adalah meninggalkan dunia yang telah lama saya geluti. Sulit memang untuk rutinitas yang saya jalani semenjak kecil dan memulai dunia yang baru. Terlebih lagi, hal tersebut saya putuskan ketika saya belum berusia dewasa benar. Sayapun terkadang takut jika suatu saat nanti akan berubah pikiran dan cukup terambat untuk memulai lagi. Semakin dewasa, sayapun semakin memahami bahwa keputusan tersebut tepat dan saya bersyukur berani meningglakan dunia tersebut sebelum semakin sulit untuk melepasnya.

Sayapun kembaili melihat ke depan setelah berpikir ke dalam dan mempertanyakan apa sebenarnya yang menjadi harapan, tujuan dan apa yang saya harus lakukan dengan hidup ini, dengan dunia yang sangat saya cintai. SAYA INGIN SEMUA ORANG MEMPUNYAI KEBEBASAN BERPIKIR DAN BERPENDAPAT. Itulah yang terlintas dalam benak saya dan terus terlintas. Saat seseorang bertanya mengapa hal tersebut yang menjadi visi saya, ternyata kami sama-sama tahu bahwa tidak ada alasan yang cukup dramatis sehingga saya memilihnya menjaadi visi saya saat ini ( saya katakan saat ini karena memang bisa saja berubah dan saya tidak takut dengan perubahan visi). Perlukah kedramatisan ini? Tidak tentunya, karena hal tersebut adalah hal sederhana yang mungkin tidak kita miliki. “ Berpikir adalah awal dari tindakan, namun apa yang kita pikirkan belum tentu bebas dari belenggu ketakutan akan pikiran kita sendiri. Padahal, hanya yang ada dalam pikiranlah kebebasan total kita, perang logika, rasa dan kalkulasi yang menjadikannya keputusan untuk yakin bergerak. Semakin sedikit pilihan kita, semakin besar kemungkinan kita mengambil langkah yang salah”. Itulah jawaban sederhana saya saat itu.

Kembali ke topik semula, saya pikir, tidak perlu kita gengsi atau takut untuk merubah arah langkah, dan tujuan kita jika kita telah berpikir lagi ke dalam, menanyakan pada diri kita dan mempertanyakan segalanya. Karena semakin kita memilih, semakin pula kita yakin dan siap dengan pilihan kita untuk hidup ke depan.