PENGADERAN IDEAL

BAB I

KEBUTUHAN ORGANISASI DALAM MELAHIRKAN KADER BARU

Setiap organisasi apapun membutuhkan kader untuk keberlangsungan organisasi tersebut. Dapat diibaratkan sebagai manusia yang membutuhkan keturunannya agar keberadaan manusia tetap ada. Begitu pula dengan organisasi yang juga membutuhkan penerus untuk mengatur organisasi tersebut.

Pembentukan kader dapat dilakukan secara formal maupun informal. Dengan cara informal, pembentukan kader dapat dilakukan dengan menurunkan nilai-nilai organisasi tersebut dengan system penurunan nilai yang tidak testruktur dan tersistematis. Contoh yang dapat kita ambil pada pembentukan kader secara informal adalah ketika terjadi penurunan nilai dengan cara diskusi santai, berinteraksi dalam organisasi, dan banyak hal yang tanpa kita sadari adalah salah satu bentuk pembentukan kader secara informal, baik disadari ataupun tidak dampak dan budayanya. Proses pembentukan kader secara formal adalah proses pembentukan kader yang disusun secara sistematis dan tertsruktur. Dalam proses pembentukan kader ini, organisasi menganalisis kebutuhannya, kondisi calon kader dan organisasi tersebut, menentukan tujuan bersama, menentukan metodologi proses pembentukan kader yang tepat, lalu menyusun tataran teknis pelaksanaannya.

Begitu pula pembentukan kader bersama Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, atau untuk mempermudah kita definisikan sebagai pengaderan STEI. HMIF dan HME sebagai organisasi, tentu memerlukan kader untuk pemimpin-pemimpin selanjutnya di organisasi masing-masing. Pengaderan yang dilaksanakan dapat dalam bentuk informal maupun formal juga. Pengaderan informal tentu baik disengaja ataupun tidak pasti akan dilaksanakan, dan pengaderan formal, saya asumsikan di sini juga diperlukan. Kita masih membutuhkan icon dalam melihat sesuatu, maka kita juga membutuhkan kaderisasi formal yang lebih terlihat untuk menyadarkan calon kader bahwa pengaderan di dalam organisasi tersebut ada sehingga calon kader dapat belajar dan berinteraksi karena merasa difasilitasi. Hal di atas pula adalah salah satu penjelasan mengapa kita membutuhkan pengaderan STEI.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENGADERAN DAN SISTEM PENGADERAN YANG IDEAL

Pengaderan yang ideal adalah proses pembentukan kader yang sesuai dengan tujuan organisasi tersebut. Dari mana tujuan organisasi adalah dari visi dan misi organisasi yang bersangkutan. Dalam hal ini saya mengambil contoh pengaderan STEI. Dalam pengaderan STEI ini, ada beberapa langkah yang sebaiknya kita lakukan sebelum menentukan pengaderan STEI seperti apa yang ideal

1. Menentukan visi dan misi masing-masing himpunan

Tentu HME dan HMIF mempunyai visi dan misi himpunan karena kita adalah sebuah organisasi dan definisi organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama (Stoner). Tujuan terbentuk ketika kita sudah mempunyai bayangan tentang kearah mana organisasi kita akan dibawa dan dengan mengambil langkah yang seperti apa, atau dapat kita katakan sebagai visi dan misi. Visi dan misi inilah yang melandasi himpunan dalam bergerak dan beraktifitas. Dan di dalam bergerak dan beraktifitas ini organisasi memerlikan kader untuk regenerasi kepemimpinan organisasi selanjutnya

 

2. Analisis kebutuhan masing-masing himpunan

Kader seperti apa yang dibutuhkan oleh masing-masing himpunan kita? Ada baiknya kita menganalisis kebutuhan kita akan kader yang menjadi idaman kita. Hal ini dapat juga kita lakukan dengan melihat masalah yang terdapat dalam himpunan yang berhubungan dengan SDM dari organisasi yang bersangkutan. Sebagai contoh, himpunan x memiliki masalah dalam kebertakwaan anggotanya terhadap Tuhan yang Maha Esa, sedangkan Pancasila yang menjadi landasan organisasi x meng- include Ketuhanan yang Maha Esa di dalamnya. Maka, organisasi x membutuhkan kader yang bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa.

3. Analisis kondisi masing-masing himpunan dan calon kader

Kita seharusnya mengetahui kondisi himpunan sebagai pengader dan calon kader yang dikader. Dengan analisis kondisi ini, kita dapat mengetahui apakah kebutuhan masing-masing himpunan terkait kader ideal relevan atau tidak. Analisis kondisi juga ini juga melihat apa yang dimiliki oleh himpunan dan calon kader baik positif atau negatifnya, sehingga kita dapat memilah-milah apa yang dapat tetap kita berikan kepada calon kader atau apa yang tidak.

4. Menentukan tujuan bersama dari kedua himpuanan

Setelah masing-masing himpuanan berembuk dan menganalisis himpunannya masing-masing, tentu masing-masing himpunan mendapatkan tujuan masing-masing dalam pengaderan bersama ini (jika kedua belah himpunan sepakat dengan pengaderan bersama). Setelah itu, kita dapat mencari irisan tujuan dari kedua himpunan yang kemudian ,jika disepakati, dapat menjadi tujuan bersama.

5. Menentukan metode pengaderan

Setelah menganalisis dan menyepakati tujuan bersama, kita menentukan metode pendidikan yang tepat untuk calon kader kita. Dengan militerisme seperti pendidikan militer kita yang berselogan “RI harga mati” kah? Atau dengan bendidikan ala Sparta yang memunculkan kemampuan terpendam dan pantang menyerahkah? Metode rakyat tertindas, atau banyak metode lain dalam pendidikan dan pengajaran lainnya

6. Teknis

Langkah terakhir walau bukan yang termudah. Dalam langkah teknis ini, diharapkan adanya kekonsistenan dari panitia pengaderan STEI yang mewakili himpunan masing-masing.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENGADERAN DAN PEMIMPIN IDEAL

Setelah system pengaderan ini terbentuk, barulah kita berbicara mengenai pengaderan yang ideal. Menurut saya pribadi, pengadran ideal saat ini adalah pengaderan yang melahirkan pemimpin-peminpin baru di setiap organisasinya. Dalam konteks ini, pemimpin bukanlah seorang one man show atau superman yang multi talent, sehingga keorganisasian dalam himpunan dapat dikerjakan sendiri . pengaderan ideal melahirkan pemimpin-pemimpin yang mempunyai inovasi, sehingga organisasi dapat berkembang. Jika kita dapat mengambil pemikiran Darwinian tentang evolusi, maka pemimpin-pemimpi tersebut adalah gen-gen yang selalu membawa bentuk perubahan. Jika perubahan dalam individu tersebut surfive dan dapat mengembangkan keturunan, maka terbentuklah makhluk hidup baru yang dapat lolos dari seleksi alam, jika tidak, maka musnahlah makhluk hidup tersebut. Inovasi membawa perubahan, baik sedikit atau banyak dampaknya, jika tidak setuju dengan perubahan tersebut, maka sebaiknya organisasi yang bersangkutan mendiskusikannya. Karena dengan komunikasilah kita dapat bersaing sebuah meme ataupun memahami pemikiran.Jika, budaya berkomunikasi inilah yang menjadi masalah dari setiap himpunan, tentu kita membutuhkan kader yang dapat melahirkan budaya berdiskusi, menulis, dan membaca.

Selain melahirkan pemimpin-peminpin yang inovatif, pengaderan ideal seharusnya juga menciptakan kader yang dapat terus berkarya di organisasinya. Atau dengan kata lain, setelah melewati sebuah tahap pengaderan, kader-kader baru tidak hilang begitu saja setelah mendapatkan pendidikan yang diberikan oleh organisasi yang bersangkutan.

Kader yang baik adalah kader yang menghasilkan kader yang lebih baik lagi. Sehingga pengaderan yang baik akan menghasilkan kader yang seperti itu. Sebuah organisasi akan semakin berkembang jika kadernya semakin memperbaiki organisasi tersebut, sehingga organisasi tersebut semakin kokoh.

Jika penurunan nilai mutlak terus berlangsung , maka pengaderan akan terus berlangsung. Dengan kata lain, pengaderan mempunyai tahapan-tahapan. Akan sangat baik jika penurunan nilai ini kita formalkan agar lebih rapih lagi . pengaderan bertahap, selain meningkatkan kemampuan anggota, juga lebih efektif dan efisien karena materi yang diberikan tidak diberi dalam satu tahap sekaligus.

BAB IV

METODOLOGI PENGADERAN YANG IDEAL

Metodologi yang dibutuhkan juga dapat tidak satu cara saja. Sebagai contoh, kita dapat mengambil 2 atau 3 metodologi yang sesuai dengan kondisi pengaderan STEI 2007 dan kondisi lapangan pada saat itu. Tidak ada satu metodologi yang ideal dalam mendidik atau mengader. dalam pengaderan STEI 2007 ini, saya kira msih relevan menggunakan flow tinggi untuk membangkitkan semangat dan peserta peserta kader. Selain itu, metode pembelajaran modern yang membuat peserta kader bukan lagi objek pendidikan dapat membuat suasana cair dan komunikatif. Metode kaum tertindas yang kita kenal dengan kata-kata “ satu salah, salah semua” terkadang kita butuhkan juga untuk menimbulkan solidaritas sesama peserta kader.

Kita dapat saja merangkum beberapa metode dalam pengaderan seperti Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila sebagai bentuk kebutuhan dari keberagaman, kita tetap harus memilih metodologi utama yang menjadi landasannya. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa metode pendidikan modern menjadi landasannya. Dengan menganalisis kebutuhan dari organisasi dan kondisi lingkungan, pendidikan modern yang komunikatif dapat membentuk pemimpin yang berwawasan luas dan lebih terbuka dengan pemikiran baru. Pemimpin tersebutlah yang berinovasi dalam perubahan terhadap organisasi dan lingkungannya. Selain itu, dengan keluasan wawasan, kader tersebut akan mengembangkan diri , organisasi dan lingkungannya kea rah lebih baik. Tentunya jika dilandaskan dengan etiket dan moral.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

Pengaderan adalah mutlak dibutuhkan dalam setiap organisasi untuk dapat berkembang dan tetap ada. Pengaderan, atau penurunan nilai dilakukan setiap saat baik kita sadari atau tidak, baik dilaksanakan secara formal atau nonformal. Pengaderan yang ideal adalah pengaderan yang menghasilkan pemimpin ideal secara umum, yang sebelumnya saya bahas , yaitu pengaderan yang menghasilkan pemimpin inovatif yang dapat membagi ilmunya sehingga tidak menjadi one man show, pengaderan yang menghasilkan pemimpin baru, kader yang tetap berkarya, dan berkelanjutan.

Banyak juga metode yang kita ambil untuk mendukung pengaderan ideal yang kita harapkan. Tidak hanya satu metode saja yang dapat kita ambil, beberapa metoda dapat kita lakukan dalam pengaderan, jika sesuai. Walaupun, tetap kita mengambil satu metode dasar, yang menurut saya, metode pendidikan modern, tepat menjadi dasar metodologi pengaderan yang sesuai jika dilihat dari analisis kondisi dan kebutuhan saat ini.