Sejarah Kemahasiswaan ITB

image085.jpgimage059.jpgpicture-014.jpgimage037.jpgpicture-168.jpg

Kemahasiswaan ITB berwal pada 2 september 1920 ketika sebuah organisasi bernama Bandungse Student Corps (BSC ) berdiri. Namun, karena krang mewakili aspirasi mahasiswa pribumi dan mahasiswa Cina, maka mahasiswa pribumi dan Cina membentuk organisasi baru bernama Indische Studenten Vereneging (ISV), walaupun pada akhirnya mahasiswa Cina memisahkan diri dan membentuk organisasi sendiri. Kemudian, mahasiswa Indonesia ini turut andil dalam membangkitka kesadaran bangsa Indonesia untuk merdeka.

Beberapa bulan sebelum kemerdekaan, tepatnya pada 13 april 1945 lahirlah Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Bandung (SMFTB). Ketika itu ITB yang kita kenL SEKARANG MASIH BERNAMA Institute of Tropical Science-Kogyo Daigaku. Barulah setelah 15 tahun kemerdekaan, kemahasiswaan terpusat ITB dibentuk menjadi Dewan Mahasiswa ITB sebagai badan eksekutif mahasiswa. Kemahasiswaan ITB pun semakin aktif terbukti dai kintribusa mahasiswa ITB dalam rangka mendukung usaha pembebasan Iria Barat, aksi tritura dan aksi anti PKI.

Pada tahun 1966, dibentuk Keluarga mahasiswa ITB sebagai kemahasiswaan terpusat di ITB menggantikan Dewan Mahasiswa yang semua kegiatannya dikonsentrasikan untuk menegakkan stebilitas nasional. Hal ini disertai denga pembentukan badan legislative dan organisasi ekstra umum

Kemahasiswaan ITB kembali memanas ketika terjadi konfrontasi dengan ABRI yang terbunuhnya seorang mahasiswa ITB Rene L. Conrad, gerakan anti lapar pada tahun 1971 dalam rangka memprotes penanganan BULOG, dikeluarkannya petisi 5 Oktober yang memprotes pelaksanaan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan pengangguran, lalu puncaknya adalah peristiwa Malari.

Dipelopori oleh Herry Achmadi dkk, pada tahun 1978, diperkenalkanlah sebuah konsep mendasar tentang pengentasan rakyat Indonesia dari segala bentuk pembodohan dalam rezim Soeharto dengan mengajarkan demokrasi pemilihan langsung ketua DEMA ITB. Sebuah gersksn ysng kemudian dikenal dengan Geraka Anti Kebodohaan (GAP). Tidak hanya itu, mereka kemudian menerbitkan “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa Indonesia” dan aksi klimaks yang mengeluarkan pernyataan sikap yang diwujudka dalam spanduk besar bertuliskan “ Tidak Mempercayai Lagi Soeharto Sebagi Calon Presiden” yang berdampak didudukinya kampus ITB oleh militer selama 6 bulan dan hanya mahasiswa baru angkatan 1978 saja yang boleh berkuliah. Peristiwa ini lalu berlanjut dengan dikeluarkannya NKK/BKK dan pembubaran DEMA. Pada masa ini, kegiatan kemahasiswaan ITB dikembalikan kepada himpunan mahasiswa masing-masing.

Karena kebutuhan mahasiswa akan kemahasiswaan terpusat, maka pada 20 januari 1966 berdirilah KM-ITB dari hasil muker Ciwidey yang melibatkan elemen-elemen kampus. Kemahasiswaan ITB kembali berkontribusi dalam menumbangkan orde baru pada tahun 1998, dan banyak kegiatan kemahasiswaan lainnya hingga sekarang KM-ITB masih berdiri dengan Zulkaida Akbar sebagai ketua cabinet KM-ITB peiode 2007/2008