Pendidikan Dan Kemiskinan

….. Bukan lautan, hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman….

(kolam Susu, Koes Ploes)

Dari artikel yang saya dapatkan, semakin sulit saya berpikir bagaimana lagu seperti di atas dapat tercipta. Di indonesia terdapat 108,7 juta orang miskin menurut bank dunia pada bulan maret 2006 . ketahanan pangan jauh dari harapan dan masalah pendidikan menjadi masalah tetap yang belum ditemukan solusinya di Indonesia. Bagaimana kita dapat membicarakan pendidikan ketika perut belum terisi. Bagaimana masalah perut dapat diselesaikan jika pendidikan masyarakat yang menaikkan level kehidupan tidak dapat dipenuhi.

Secara kasat mata kita dapat melihat kemiskinan dengan jelas ketika kasus busung lapar kembali memarak. Tentu hal ini diklasifikasikan sebagai masalah ketahanan pangan. Menariknya negara kita ini adalah negara agraris, tatapi masalah ketahanan pangan dapat dikatakan selalu popular setiap tahunnya. Menariknya lagi, rutin juga kita mengadakan impor beras karena beras adaalah makanan pokok orang Indonesia. Pertanyaan saya adalah haruskan beras menjadi makanan pokok bersama seluruh orang Indonesia? Mengapa tidak kita budayakan lagi memakan pangan lokal saja seperti dulu? Dulu tidak semua orang Indonesia berpangan utama beras . Ada yang makan sagu, singkong, ubi. Sejak jaman orde baru lah kita langsung saja vokal berkata bahwa makanan utama orang Indonesia adalah beras tanpa memikirkan dampaknya sekarang.

Selain busung lapar, kita dapat melihat kemiskinan dengan melihat juga banyaknya pengangguran di Indonesia yang dapat berdampak pada keamanan. Banyak hal yang yang menyebabkan bertambahnya pengangguran di Indonesia seperti kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya pendidikan, sulitnya peminjaman modal awal untuk memulai usaha, dan lain hal sebagainya.

Rendahnya penghasilan perhari juga dapat digunakan sebagai indikator kemiskinan. BPS mengkategorikan miskin pada orang yang penghasilan hariannya dibawah Rp. 5.000,00. Bank dunia menkkategorikan miskin pada orang yang penghasilannya di bawah $2 perhari dan di bawah kemiskinan pada orang yang berpenghasilan $1 perhari.

Solusi kemiskinan sebenarnya dapat dipecahkan jika semua orang melek mata dan dapat melihat realita yang ada dengan didampingi oleh pendidikan yang memadai. Lalu bagaimana dengan pendidikan di Indonesia yang jauh dari harapan memadai? Kurikulum yang kerap kali berganti, mahalnya biaya pendidikan yang tidak terjangkau, waktu yang diperlukan untuk menempuh pendidikan, kurangnya penunjang pendidikan seperti buku dan bangunan memadai. Sumber daya pengajar yang terbatas, permasalahan di birokrasi pendidikan. Banyak permasalah pendidikan lainnya yang kita temui jika kita mengaji lebih dalam lagi.

Bagaimana pendidikan tidak mahal, jika dalam waktu yang dekat kurikulum diganti dan buku-buku penunjang diperbaharui berulang kali padahal isinya tidak jauh beda. Proyek pembaharuan buku tersebut semakin memahalkan biaya pendidikan kita juga bukan? Ada baiknya kita mempertanyakan hal tersebut untuk efisiens dana pendidikan yang lebih baik.

Pernahkah kita memikirka penghasilan pengajar yang kurang dari cukup? Bagaimana profesi sebagai pengajar dapat diminati dan popular sehingga banyak orang berkualitas yang menjadi pengajar jika penghasilan pengajar kecil. Wajar saja bukan jika hasil pengajaran tidak optimal. Tapi dari mana kebutuhan untuk gaji pendidik dpat dipenuhi oleh negara? Bahkan pemerintah sekarang saja belum mencapai 12% dana APBN untuk pendidikan dari 20 %yang dijanjikan. Malah turun menjadi 9% (tepatnya 9,…. Saya lupa)

Tidak sedikit juga masalah pendidikan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Masalah lain pun belum terselesaikan dan saling menyambung membentuk mata rantai yang panjang. Tulisan saya ini memang tidak memberikan solusi bagaimana menyelesaikan masalah yang ada. Hanya mengkritisi, mengingatkan kembali masalah yang harus kita selesaikan bersama-sama ini. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah sebagai eksekutor kebiajakan, tetapi juga kita yang mengetahui permasalah apa saja yang ada Indonesia.