Di Antara Integritas Dan Prinsip : Knowledge

Integrity without knowledge is weak and useless, and knowledge without integrity is dangerous and dreadful

Samuel Johnson ( 1709 – 1784)

Jika Integritas dapat kita artikan sebagai dasar dari seseorang melakukan sesuatu yang konsisten terhadap prinsip yang dianut, maka sebelumnya kita harus membuka mata terhadap segala jenis prinsip yang ada. Beberapa prinsip mungkin akan sangat bertentangan dengan kita yang mungkin saja disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan. Terkadang, kita memilih sesuatu, apapun itu, sebagai prinsip hidup kita karena penanaman nilai yang sangat kuat yang ditanamkan oleh orangtua, masyarakat, dan orang-orang terdekat kita tanpa kita pertanyakan kembali nilai-nilai yang ditanamkan tersebut. Tentu kita mengenal Hitler, salah satu kasus terburuk yang kita tahu ketika seseorang mempunyai integritas diri yang tinggi terhadap prinsip hidup yang dianutnya.

Prinsip dapat berarti suatu aturan umum yang dijadikan sebagai panduan prilaku. Prinsip apa saja yang kita pegang sangat terkai dengan apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan, tujuan hidup, dan nilai-nilai yang kita anut. Masih dalam kasus Hitler, seseorang yang sangat kita kenal, pemimpin hebat pada zamannya. Hitler adalah contoh dari pemimpin yang sangat berintegritas pada prinsipnya, mempunyai prinsip yang kuat, tujuan yang jelas, namun perlu kita pertanyakan kembali nilai-nilai yang ia dapat untuk mengawal dan mendasari prinsip hidupnya. Apakah dia menganut nilai kemanusiaan? Tentu jawabannya tidak. Jika itu yang dia anut, tidak ada tragedi hollocaust yang sampai sekarang menjadi kasus pembantaian massal terburuk pada abad 20. Apakah dia mempertanyakan kembali nilai-nilai yang dianutnya dengan pengetahuan? Tentu tidak, dari mana dapat ia simpulkan bahwa ras Aria adalah ras terbaik dan yang krisis ekonomi di Jerman disebabkan oleh bangsa Yahudi secara sengaja sehingga yahudi harus dimusnahkan? Nilai-nilai yang dianut hitler untuk menggerakkan bangsa Aria tanpa pengetahuan yang jelas dapat menghancurkan bangsanya sendiri sudah dapat kita lihat dan telaah sendiri.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai integritas tehadap prinsip yang telah dia ambil? Secara tidak sadar kita pernah atau masih menjadi orang tersebut. Ketika kita lebih memilih sebuah kesenangan yang bertolak belakang dengan prinsip hidup kita. Saya pikir tidak perlu menggunakan contoh orang-orang besar yang namanya biasa kita lihat di buku sejarah untuk membuat kita mengerti efek yang kita dapat jika kita tidak mempunyai integritas atau kritis integritas terhadap prinsip kita. Ketidakpercayaan orang lain, atau mungkin yang terburuk adalah kita bisa saja sangat merugikan orang lain . Sebagai penutup, tentu anda kenal dengan korupsi. Itulah contoh krisis integritas di negara kita. Ada yang tidak sepakat dengan contoh kasus tersebut?