Ayah, Karini Akan Menjadi Apa?

29400.jpgkartini_1.jpgphoto12.jpgkar2.jpgAyah, Kartini kelak akan jadi apa yah?” tanya Kartini sepulangnya dari sekolah.

Orang tua itu terkejut dengan pertanyaan putrinya. Ia tidak menjawab. Memang ia tidak mau menjawabnya. Anak yang dicintainya itu tentu tidak akan mengerti. Jawabnya hanya sebuah senyuman,sementara tangannya terus mengusap-usap kepala anaknya. Kartini bertanya lagi, dan ayahnya hanya bisa tersenyum mendengar puri kecilnya menanyakan hal itu

Jika seorang Kartini tidak pernah sekalipun dalam benaknya menanyakan hal itu, Ia mungkin hanya akan menjadi Raden Ayu. Hanya menjadi istri seorang bangsawan seperti ibu-ibunya. Menjadi seorang raden ayu yang anggun, dengan langkah hampir tidak bersuara dan suara yang hampir tidak terdengar jika berbicara. Siapapun dapat menjadi aden ayu, tapi siapapun belum tentu bisa menjadi seorang Kartini yang kritis dalam kerangkeng adat yang juga sangat dia cintai.

Kartini lahir ketika marak pencabutan tanam paksa. Ayahnya adalah R. M. A. Sosroningrat, seorang bupati jepara dan ibunya bernama Ngasirah, anak dari mandor pabrik gula mojang. Ayah Kartini adalah bangsawan yang mendapat pendidikan Barat. Karena kakek Kartini , Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak, adalah bupati pertama di Jawa tengah yang memberikan putra-putranya didikan barat agar putra-putranya agar mendapatkan kemajuan dalam pendidikan. Ayah Kartini pun mengikuti jejak ayahnya dengan memberikan putra-putrinya pendidikan.

“Tidak, ayah tidak jahat,” kata Kartini kepada adiknya. “Ayah baik. Ayah sudah menyekolahkan kita. Padahal jarang anak perempuan ke sekolah jaman sekarang. Ayah baik. Betul-betul baik. Hanya adat yang kurang baik. Adatlah yang memaksa saya berhenti sekolah.”

Pendidikan resminya hanya sebentar. Ia dipingit ketika berusian 12 tahun. Namun karena pingitan yang dialami gadis bangsawan ketika beranjak dewasa seperti yang dialaminya, pelajaran yang didapatkan semakin matang. Ia semakin kritis dan memikirkan nasib kaumnya yang lain, kaum perempuan. Selama 4 tahun ia dipingit, ditemani surat-surat dari temen-temannya yang kemudian dibukukan dan berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan buku-buku kiriman guru dan teman-temannya . Ia Tidak diperbolehkan untuk melewati tembok gedung keasistenwedanaan, rumahnya sendiri karena memang itulah adat jawa yang diberikan kepada bangsawan perempuan.

Ketika berusia 16 tahun, pingitannya telah selesai. Hari masih pagi kala itu, dan di pagi itulah untuk pertama kali Kartini melihat dunia luar. Pada hari itu mereka menghadiri pentahbisan gereja baru.Dan mungkin Karena kunjungan itulah Kartini juga sangat menghormati kaum Nasani. Sebenarnya pembebasan itu belum bersifat resmi, sekalipun orangtuanya sudah menolak kebiasaan memingit. Mereka masih di tahan di rumah dan lambat laun lebih sering akhirnya mereka bepergian.

Tidak lama dari pembebasan pingitan Kartini, Ia diperkenalkan kepada Tuan dan Nyonya Ovink. Kedua orang belanda ini sangat heran mendengar seorang perempuan jawa berbicara bahasa jawa dengan lancer. Sementara ayahnya berbicara dengan Tuan Asisten Residen Ovink, Nyonya ovink mengajukan pertanyaan pada Kartini dan kedua adiknya. Baru pertama kali ia mempergunakan bahasnya dengan perempuan pribumi. Karena kelancaran bicara dan kecedasan Kartini, ia sering diundang untuk bercakap-cakap di rumah keluarga Ovink.

“Mereka semua tidak bersekolah ,Nyonya . Alangkah baik jika dibuka sewaktu waktu dibuka sekolah untuk mereka.” Seraya Kartini menunjuk ke arah beberapa perempuan yang berdiri di pinggir jalan.

“Bukankah mereka semua berbahagia? Lihat saja bagaimana mereka tertawa.” Nyonya itu mencoba menjawab.

“Berbahagia? Saya banyak sekali mendengar tentang kehidupan mereka. Menyedihkan sekali. Karena mereka tidak disekolahkan. Jika mereka diberi kesempatan untuk bersekolah, keadaan tentu lain.” Jawab Kartini menanggapi.

Hal kritis seperti itu pun penah juga diungkapkan Kartini ketika mlihat kerajinan jepara bersama nyonya Ovink. “ Lihatlah perempuan-perempuan itu Nyonya, mereka buta huruf dan kurang gizi. Padahal kerajinan yang dibuat oleh putra-putra dan suami mereka sangat indah. Saying sekali bukan?”

Nyonya Oving pun memperhatikan perempuan-perempuan yang memakai kutang kusam dan kulit hitam legam kasar, perempuan-perempuan yang sedang meneteki anaknya sembari menyembah. Iapun menceritakan apa yang Kartini katakana kepada suaminya. “Bangsa ini akan segera mempunyai pahlawan perempuan, semoga ia dikaruniai hidup panjang.” Kata Tuan Ovink sembari tersenyum.

Sungguh seorang Raden Ajeng yang kritis dan memerhatikan lingkungan sekitar. walau baru saja menapaki dunia di luar tembok keasistenwidenaan. Kritis dan peduli pada perempuan di daerahnya yang dikekang adat. Perempuan-perempuan jawa yang tidak diperbolehkan untuk cerdas, menahan kelakuannya agar terlihat pendiam.

Mengapa perempuan terus yang diperhatikan Kartini? Mengapa ia tidak terlalu konsen akan nasib laki-laki di daerahnya? Karena perempuan jawa adalah kelas dua dalam keluarga. Anggota keluarga yang berjenis kelamin laki-laki harus makan kenyang terlebih dahulu baru perempuannya. Anak laki-laki bengsawan disekolahkan, sedang anak perempuannya di rumah saja. Hanya beberapa perempuan bangsawan seperti Raden Ayu di keluarga Kartini saja yang berkesempatan mengikuti pelajaran di sekolah walaupun pada usia 12 tahun mereka harus dipingit.

Kartini berpikir jika perempuan mendapat pendidikan, maka setiap keluarga akan lebih terjaga kesehatannya. Karena perempuanlah yang mengatur kesehatan keluarga, yang mengurus anak, yang memasak, da mengurus rumah. Jika keluarga sehat, maka keluarga akan lebih sejahtera. Ini menarik, Kartini adalah Keluarga bangsawan, seorang perempuan, yang juga dibebani adat, perempuan di zamannya yang berpikir kritis, peduli, memikirkan sekitar, dan terus mencoba untuk memajukan kaumnya yang terbelakang, yang juga mengurangi kesulitan tiap keluarga di daerahnya.

Tidak hanya sebatas kata dan surat saja yang ia persembahkan untuk kaumnya, tapi juga sekolah perempuan yang awalnya sederhana hingga menjadi besar dan banyak perempuan yang mengikutinya. Dari perempuan abdi keasistenwidenaan dengan sekolah berbetuk pendopo di belakang keasistenwidenaan hingga gedung yang diberikan pemerintah Hindia Belanda.

Sebuah persembahan yang diberikan oleh Kartini untuk kaumnya, bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan. Hal besar yang berawal dari pertanyaan Kartini ketika kecil, “Yah, Kartini akan menjadi apa?” Yang mungkin dapat kita jawab sekarang,