
Definisi semiologi yang paling umum adalah ilmu tentang tanda (berasal dari bahasa Yunani semeîonn yang berarti “tanda”). Nama ini diusulkan oleh Ferdinand de Saussure dalam Cours de lingusitique générale. Nama lain yang juga lazim dipakai untuk menunjukan ilmu tentang tanda ini adalah semiotika, yang diusulkan oleh Charles Sanders Peirce.
Dengan definisi yang sangat umum seperti itu, maka semiologi menjadi ekpansionis: ilmu apapun akan tercakup di dalamnya, karena pada dasarnya semua ilmu mempelajari tanda-tanda. Umberto Eco mengaitkan semiotika dengan seluruh proses kultural dalam proses komukasi. Menurutnya, semiotika harus mempertimbangkan teori kode dan teori produksi tanda. Untuk sampai pada definisi yang lebih tepat mengenai fungsi tanda dan model produksi tanda misalnya, secara khusus semiotika harus memperhitungkan arti tanda tipologi tanda (Nöth, 1990: 326). Dalam A Theory of Semiotics Eco mengatakan:
Semiotics is concerned with everything that can be taken as a sign. A sign is everything which can be taken as signicantly substituting for something else. This something else does not necessarily have to exist or actually be somewhere at moment in which a sign stands for it. Thus, semiotics is in principle the
Mengikuti definisi semiologi yang diberikan oleh Fiske, yaitu bahwa semiologi merupakan ilmu yang memiliki tiga ranah utama, yaitu: tanda dalam dirinya sendiri, kode-kode atau sistem tempat tanda itu diorganisasikan, dan kebudayaan tempat kode-kode dan tanda-tanda itu beroperasi (Fiske, 1990: 40)discipline studying everything which can be used in order to lie (Eco, 1976: 7).
3 responses so far ↓
Ali Akbar // January 4, 2009 at 11:11 pm |
wow ternyata ada lagi yg tertarik semiotika/semiologi.. hehe
rara // January 22, 2009 at 2:24 pm |
bagus but kurang banyak
Dadan // July 13, 2009 at 1:13 am |
Wah indonesia memang paling
Bes, dalam hal segala2 nya